Kisah memilukan yang pernah menimpa dirimu di masa lalu pasti akan selalu teringat hingga kapanpun. Membayangi setiap kata yang engkau tulis di atas lembar kehidupan, saat kau berucap kata-kata tentang rasa, saat bahagia melanda, bahkan saat kau merasa terluka. Memang bukan suatu hal yang perlu ditangisi sepanjang waktu. Tapi terkadang luka yang dibuatnya terbuka begitu saja meskipun kau sudah berusaha menutupnya lagi dan lagi. Saat kau mencoba bercerita pada mereka, hanya tanggapan ringan yang mereka berikan, walaupun mungkin bukan itu maksud mereka, tapi cukup membuatmu menunjukkan tawamu sebagai alibi untuk menutupi awan kelabu. Di saat kau merasa sesuatu yang tidak adil, luka itu terbuka lagi. Itu sangat membuatmu merasa lelah. Kau yakin itu salahmu sendiri! Kau hanya bisa menangis! Bagaimana itu? Seiring berjalannya waktu, matahari muncul di sela-sela awan kelabu. Memberhentikan hujan yang mengguyur semesta. Menerangi bunga yang layu. Menyinari rumput-rumput hijau meskipun mereka sudah diinjak-injak. Dikotori. Dirusak. Kau mulai mengkerahkan jiwamu untuk bangkit. Tersenyum bukan sebagai alibi. Kau mulai sadar, jangan biarkan itu semua mengotori hatimu. Percaya Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu. Anggap luka itu sebuah pelajaran berharga. Walaupun orang lain tidak merasakannya sepertimu, itulah kelebihanmu! Itu kebaikan yang Allah berikan untukmu. Seperti kutipan yang berbunyi "Tiada satupun buku yang jelek yang tidak bisa diambil pelajaran darinya".
Just post what i feel and what happened on me. And try to find more treasure from the story....
Selasa, 09 Oktober 2012
Selasa, 02 Oktober 2012
Last Night in London (Part 6)
Cast: - Liliyana Natsir
- Lee Yong Dae
- Ha Jung Eun
- Hendra Setiawan
- Others
Rating:
G
Genre:
Romance, action (?)
Author:
SFN
Maaf banget ya
ngaret lanjutannya… abis jadwal author padet, jadi ke delay mulu waktu buat
lanjutin
ceritanya. I
hope you’ll still waiting for my stories… Happy Reading… RCL ya~
Last POV
Hendra POV
Tidak ada SMS
dari Liliyana. Sepertinya ia akan datang malam ini. Really Can’t Wait For This…
Akan
menjadi malam yang saaangaatt menyenangkan…
Untukku. Tenanglah, aku tidak akan sejahat itu pada
Liliyana. Aku
hanya ingin memanfaatkan waktuku di London yang sebentar ini bersama orang yang
kusukai…………………
Benar.
Sepertinya aku menyukainya. Walaupun aku tahu itu sama saja aku mencoba untuk
menghabisi
nyawaku
sendiri…..
Liliyana POV
Sepertinya tidak
usah terlalu formal. Santai saja. Celana panjang, kaus, jaket, topi, Perfect!
Tapi…. Aku
tetap merasa ada
sesuatu yang mengganjal di hatiku.. Yong Dae… Maaf ya chagi…
@Restauran Steak
“Selamat
datang~” pelayan penjaga pintu menyapaku. Aku hanya membalasnya dengan
senyuman. Lalu
akupun masuk.
Ternyata di saat seperti ini pun restaurannya cukup ramai. Di mana dia? ck..
aku lupa
menanyakan
kepadanya ia memakai baju apa, harusnya kulakukan itu tadi. “Liliyana! Di
sini!” Ah.. yang
melambaikan
tangan itu sepertinya Hendra. Ternyata ia berada di meja yang letaknya sedikit
di pojok
ruangan.
“Hai sorry, ga
telat kan?”
“Ngga ko’,
santai aja.” Syukurlah aku tidak telat.
“Oh iya, nanti wawancaranya ga usah formal-formal ya.
Walaupun aku
wartawan, tapi kalau suasananya terlalu formal nanti malah ngebosenin.”
“Oke” ga
nyangka, ternyata Hendra tuh baik banget. Dia tau gimana caranya membuat
narasumber yang
diwawancarainya
nyaman. Termasuk aku.
Author POV
Wawancara
berjalan begitu saja. Sesekali diselingi obrolan lain bahkan candaan yang
membuat mereka
tertawa.
Wawancara terhenti saat pesanan mereka datang.
“Ayo kita makan
dulu, baru abis selesai makan kita lanjut lagi.” Ajak Hendra
“Baiklah”
Mereka pun
melahap hidangan yang telah dipesan. Dan lagi-lagi, sesekali diselingi dengan
gurauan dari
Hendra yang
membuat Liliyana tertawa.
Setelah selesai
makan, sesuai dengan rencana awal, mereka pun melanjutkan wawancara – yang
lebih
tepatnya
mengobrol – cukup lama.
“Hen, udah jam
sepuluh malem nih. Aku balik ya? Nanti pada curiga lagi aku kemana.”
“Oke, lagian
wawancaranya udah selesai.” “Oh ya, lain kali kita bisa ketemu lagi kan? Bukan
wawancara
sih, ngobrol
biasa aja di café sambil minum. Kalaupun gak di London, ya di Indonesia nanti.
Gimana?”
“Mmm… kalau gak
sibuk okelah” “Udah yah, Hen. Aku balik duluan. Bye”
……………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Masih tersisa
beberapa hari lagi – tepatnya tiga hari - untuk para atlet bulutangkis
Indonesia, termasuk
Liliyana, untuk
tinggal di London. Karena seperti itulah jadwal yang ditentukan untuk mereka
meskipun
mereka tidak
mengikuti Closing Ceremony yang dilaksanakan beberapa hari setelah kepulangan
mereka.
Liliyana
menghabiskan waktunya di kamar. Main laptop, mendengarkan musik, menonton tv,
apapun
yang bisa
mengisi waktunya itu. Hpnya berbunyi.
From: Hendra
Li,lagi ngapain? Lagi sibuk ga?
To: Hendra
Lagi diem aja di kamar. Ngga ko, sibuk
gimana? Malah ga ada kerjaan..
From: Hendra
Hahahaha.. Iya juga sih. Kan turnamennya
udah selesai. Aku mau nyari oleh-oleh sekalian jalan-jalan. Mau nemenin? Nanti
aku traktir makan deh!
To: Hendra
Boleh deh! Tapi bener ya? Traktir makan!
Haha.. Oke, kapan?
From: Hendra
Iya deh… jam 8 malem? Nanti aku tunggu di
lobby hotel.
Liliyana POV
Beberapa hari
ini aku merasa aku tambah dekat dengan Hendra. Aku pun tak tahu kenapa. Ia
orang
yang,
menyenangkan, baik, orang yang sangat tepat untuk dijadikan teman. Tapi aku
baru sadar, aku jadi
jarang bertemu,
bahkan berkomunikasi dengan Yong Dae. Apa kabar dia? Aku harus menanyakannya.
To: My Prince
Chagi apa kabar? Maaf aku baru mengirim pesan
kepadamu. Aku harap kamu tidak marah. Aku benar-benar minta maaf. L
Kenapa tidak ada
balasan? Apa dia benar-benar marah denganku? Aaaaa….. bagaimana ini? Memang
salahku tidak
menghubunginya beberapa waktu ini. Tapi.. Aaaaa!
To: My Prince
Chagi?
To: My Prince
Chagi? Apakah kau membaca pesanku?
To: My Prince
Kau baik-baik saja kan?
To: My Prince
Kau tidak marah padaku kan chagi?
Sekarang aku
mencoba menghubunginya. Tidak diangkat. Aku mencobanya lagi. Nihil. Aishh!
Kalau begini aku harus bertemu dengannya. Tapi bagaimana caranya? Oh God…
Yong Dae POV
Yana sudah lama
tidak menghubungiku. Aku tak tahu kenapa. Bagaimana kabarnya? Aku sangat
merindukannya.
Semenjak wawancara malam itu, ia belum menghubungiku sama sekali. Tapi memang
salahku juga tidak
mencoba menghubunginya. Dan akupun tak tahu kenapa rasanya jadwalku tetap saja
padat. Entah
makan malam tidak jelas, jalan-jalan dengan teman-teman, shopping,ah begitulah.
Begitupun dengan
hari ini. Aku, pelatih, dan Hyung sedang makan sore –sebenarnya makan siang
yang
telat- sambil mengobrol mengenai kepensiunan hyung.
“ Ya! Kenapa kau
melamun terus daritadi?”
“ A.. Aniyo
Hyung.”
“Oh ya, Yong
Dae. Boleh aku meminjam hpmu sebentar? Aku ingin menghubungi istriku. HPku
Lowbat.”
“ Ne..
Chankaman.”
Mana Hpku?
Kenapa di kantong tidak ada? Jangan-jangan………. Aaaahhhh! Aku lupa! Aku sedang
menchargenya tadi!
“Mianhe, Hyung.
Hpku tertinggal di kamar?” Pantas saja tidak terdengar dering HP daritadi.
“Mwo? Yasudah
tidak apa-apa.”
Liliyana POV
“Ci! Buka dong
pintunya! Gue mau masuk nih! Lo kenapa sih ci? Ngurung diri di kamar gitu?”
“Duh Greys, lo
berisik banget! Diem dulu gue lagi mikir!”
Ya. Daritadi aku
mengunci diri di kamar. Alhasil Greys nungguin daritadi di Loby lantai tempat
kami
menginap. Aku
stress memikirkan Yong Dae. Kenapa SMSku tidak dibalas? Padahal folder sent message
di Hpku sudah
penuh oleh ‘My Prince’ tapi tetap saja tidak ada balasan. Aku kesal. Bahkan aku
sudah
melempar Hpku
entah kemana.
Drrtt… Drrrtt…
Yong Dae! HP!
HP! Ini dia! Ah… Hendra… Hendra?! God aku lupa kalau ada janji sama Hendra.
From: Hendra
Li,
inget kan sama janji kita? Udah mau jam 8, aku nunggu di Lobby hotel ya.
To: Hendra
Iya Iya… tunggu sebentar.
Belum siap-siap
lagi…. Duh!! Gara-gara mikirin Yong Dae jadi kaya gini……..
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Greys! Lo
ngapain di depan pintu?” Aku kaget ada Greys duduk selonjoran di depan pintu
kamar disaat
aku membuka
pintu.
“Gue cape ci
bolak-balik Lobby-kamar Lobby-kamar dan Lo belum ngebuka pintu juga. Yaudah gue
nungguin di sini
aja.”
“Sorry.. Sorry..
Yaudah sekarang lo bisa masu dan gue mau pergi dulu.. Bye..”
“Mau kemana Lo
ci? Buru-buru amat?”
Aku menghiraukan
teriakannya karena jam tanganku sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Yong Dae POV
Segarnya sudah
mandi. Ah sepertinya Hpku sudah full
Battery. Baik ayo kita nyalakan. Mwo?! Liliyana
mengirim SMS
padaku? Banyak sekali! Tapi ini sudah sejam yang lalu. Argghh!! Pabo! Kenapa
aku tidak
menyalakan HP
daritadi. Pasti ia sangat marah aku tidak membalas SMSnya.
To: My Princess
Chagi Mianhe.. Jeongmal mianhe.. Hpku lowbat
jadi aku menchargenya. Dan aku baru membukanya tadi. Maaf membuatmu khawatir.
Bagaimana kalau malam ini kita bertemu di tempat biasa?
Semoga ia tidak
marah kepadaku.
Author
POV
“Hen!” “Sorry
banget. Udah nunggu lama ya?”
“Ngga ko, santai
aja. Yuk!”
Mereka pergi mencari
oleh-oleh seperti apa yang direncanakan Hendra sebelumnya. Setelahnya,
mereka makan di Nero Caffe. Hendra sengaja memilih tempat
yang asik buat mengobrol. Karena
tujuan utamanya
adalah mengobrol berdua dengan Liliyana. Sama seperti sebelumnya, mereka makan
sambil sesekali
mengobrol dan bercanda. Hanya saja kali ini tanpa sesi wawancara.
“Li, aku boleh
nanya sesuatu ga?
“Tanya aja lagi
selagi aku bisa jawab.”
“Kamu udah punya
pacar?” Liliyana tersedak mendengar pertanyaan Hendra.
“Nih nih nih
minum dulu.” “Bukan maksud apa-apa, Li. Cuma sekedar nanya aja.”
‘Mati. Gimana jawabnya nih? Ga ada yang tau
selain Greys dkk kalau gue pacaran sama
Yong Dae. Dan
kalau orang kaya Hendra tau, bahaya!’ Gurau
Liliyana dalam hati. “Mmm.. be-lum kok! Iya belum.”
Hendra POV
“Li, aku boleh
nanya sesuatu ga?
“Tanya aja lagi
selagi aku bisa jawab.” Jawabnya.
“Kamu udah punya
pacar?” Ia langsung tersedak saat aku
menanyakannya. Aku tau ia sangat kaget.
“Nih nih nih
minum dulu.” “Bukan maksud apa-apa, Li. Cuma sekedar nanya aja.”
“Mmm.. be-lum
kok! Iya belum.” Aku tau kau berbohong Liliyana.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
Kami sudah
selesai makan. Sekarang kami sedang menelusuri jalan untuk kembali ke hotel.
Jalanan di
sini cukup
indah. Dan aku sudah ditemani orang yang tepat. Hanya menurutku. Tapi cukup
sepi di sini.
Tak tahu dari
mana datangnya tiba-tiba seseorang berlari dan menabrak Liliyana sampai jatuh
dan ia
mengambil HP
Yana.
*Ceritanya dalam bahasa Inggris*
“Hei pencuri!
Jangan lari kau!” Apa-apaan ini? “Li, kamu ga apa-apa.”
“Ga apa-apa ko,
Hen.” Meskipun begitu ia terus memegangi tangan kirinya.
“Ayo aku bantu
diri.” “Li, kamu tunggu sini ya. Aku bakalan ngejar dan ngasih pelajaran sama
pencuri
itu.”
“Hen! Hen!” Aku
menghiraukan teriakan Liliyana. Aku terus berlari mengejar pencuri itu. Ia
berlari ke
arah gang
sempit.Gelap sekali. Buntu! Bagus! Aku
bisa menghabisinya!
“Hei! kau mau
cari mati? Cepat kembalikan HP itu!”
“Hah! Bukankah
harusnya aku yang bilang begitu? Berani sekali kau ke sini seorang diri.”
Aku sudah tidak
tahan. Akupun menyerangnya. Aku menunju kepalanya. Ia mencoba membalas, tapi
gagal. Lalu aku
tinju lagi mukanya dan aku tendang perutnya. Dia tumbang. Aku mengambil HP
Liliyana.
Aku membuka
masker yang dipakainya. Tidak bisa dipercaya.
“Kau? Apa yang
kau lakukan ?
(To Be Continued)
Jatuh, Ya Bangkit Lagi!
30 September 2012. Such a great day and scary in the same time for me Because me, Rani, Nuha, and three of Santri would be in competition "LCTLH (Lomba Cepat Tepat Lingkungan Hidup) in IPB. Kita udah mempersiapkan ini kurang lebih sejak satu bulan yang lalu. Ya, kami semua tuh ingin bisa masuk final di sela-sela kekurangan kami yaitu tidak adanya pelajaran PLH di sekolah kami. Yupz! Tidak ada PLH di sekolah kami. Tapi kami semua sangat ingin mengikuti lomba tersebut dan berusaha sekeras mungkin membawa nama baik SMA Insan Kamil.
Pas di hari H-nya, aku tuh udah, "harus bangun pagi","ga boleh telat" beuuhhh segala macem deh. Aku berangkat jam tujuh kurang - yang harusnya setengah tujuh-, untungnya ada Teh Atun jado dianterin pake motor. pas nyampe depan BNI, aku nyariin. Ini anak-anak yang lomba pada kemana? Apa aku telat? Apa langsung di Sylva Pertaminanya? Nunggu nunggu sekitar sepuluh menit, beranjaklah kita mau masuk ke IPBnya. Terus aku SMS rani. Rani nelepon dia masih di angkot katanya, tunggu aja di BNI. Ya balik lagilah kita nunggu di BNI. lima menit kemudian barulah mereka datang. Akhirnya..... yang ditunggu-tunggu dateng juga. Terus kita langsung ke TKP. Kita didampingin Ka Aulia, kakaknya Rani. Sesampainya di sana, ternyata anak santri udah pada nyampe duluan *yaiyalah, orang pake motor semua* terus kita langsung ngurusin administrasi segala macem. Kita disuruh nunggu sampe semua peserta dateng *datengnya pada ngaret* n semua baru ngumpul pas jam delapan lewat 15. Kita terus baca0baca lagi buku PLHnya sambil tegang. Kata Rani sama Nuha "Jangan lupa Tawasulan Syeikh Abdul Qodir Jaelani sama Agitsnii Agitsnii...", Karena kita memang tegang banget! Terus ga lama ada upacara pembukaan. Aku kira pesertanya banyak banget, ternyata yang hadir cuma 10 kelompok.
Pertama, ada babak penyisihan. Tertulis. waktunya 90 menit. Waktu ngerjain soal, kita heboh banget! Tapi tanpa suara alias sambil bisik-bisik. Selesai, kita di suruh nunggu hasil. Sambil nunggu, kita makan snack yang udah di kasih panitia.setelah sekita 15 menit nunggu. Diumuminlah yang masuk babak semifinal. Dan...... *jejeng~* SMA Insan Kaminl disebut paling pertama! Kita seneng banget dong! Tapi kita bingung, "Yang mana nih yang masuk? Soalnya yang Depok aja ada dua kelompok dua-duanya masuk dan Depoknya disebutin 2 kali." Akhirnya Rani nanya. Dan yang masuk adalah kelompok aku! Kita seneng banget! Tapi kita juga sedih, kasian anak santrinya. Ga tega.
Yaudah langsung aja kelompok kami mengikuti babak SF. Ada 3 babak SF. Kami masuk kelompok yang mengikuti babak SF pertama. Unfortunately, kita kalah. Masih ada kesempatan sih di babak SF 3, tapi tetep aja ngerasa, yaaahhhh... sayang banget.
Setelah menunggu dan mengikuti setiap babak SF, tibalah babak SF ketiga. Kami ikut lagi. babak SF berjalan ketat. Skor kami kejar-kejaran dengan skor SMAN 1 Depok. Di saat-saat soal terakhir, skor kami sama, 400. Saat soal terakhir, soal belum selese bidacain, tapi udah ada yang mencel bel, SMA BM. tapi jawaban mereka salah. Kami tahu jawabannya. Kami kira ada soal lain, tapi ternyata SMAN 1 Depok mencet bel dan ngejawab pertanyaan tadi, dan bener. mereka menang n masuk final. Nyesek kan? Kita tuh lemesssssssss banget! Soalnya, kalahnya tuh nyesek banget. Kita langsung keluar ruangan buat ngambil makan siang. Kita duduk di pojok depan gedung. Istilahnya ya... meratapi kekalahan. Kita misbah banget di situ. Tapi ya... apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Kami hanya bisa merelakan. Toh kami sudah berusaha dan berdo'a, yang memustuskan semuanya hanya Allah. Ka Aul juga ngasih semangat "Udah, jadiin pelajaran aja...". Nuha juga bilang, "Semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuz". Dan semua mencoba saling menyemangati sesama dan diri sendiri.
Setelah lama berdiam diri sambil meratapinya, ngedumel segala macem -aku sambil makan- kita pulang, begitupun santri. Nah, aku ga langsung pulang. Aku nyusul keluarga ke Botas. Dan jalanan Macet banget. Sampe ditelponin berkali-kali sama papa soalnya lama nyampenya.
Pas nyampe, langsung ke Gramed soalnya lagi pada di sana. Pas si Nopal *adekku* mau bayar ke kasir, aku ditanyain, "Kaka mau beli buku?", aku ngangguk aja. Karena kalau udah di toko buku, walaupun ngga direncanain, pasti ada aja buku yang mau dibeli. Apalgi beberapa hari sebelumnya, Raudha cerita kalau ada novel tentang bulutangkis gitu, judulnya "Sang Penakluk Angin".Yaudah aku cari deh tuh buku. Dan nemu! Tapi belum beres. Masih nyari satu buku lagi yang judulnya "2" tapi ga nemu-nemu dan aku udah duburu0-buru sama papa. Yaudah, jadinya ku nyari buku TOEFL aja. Udah deh, kita langsung ke Supermarket. Pas mau ke Supermarketnya, aku liat ada rame-rame di lantai dasarnya, aku liat ke bawah, ada Festival "100 tahun sebelum kelahiran Doraemon". Tapi pas liat ada yg dance dan ngedengerin lagunya... Gangnam Style! Ini perasaan Festival Doraemon. Doraemon kan dari Jepang, lah ko dancenya Gangnam Style? Lanjut.... kita belanja keperluan bulanan. Terus pulang deh...
Nah... pas udah masuk sekolah -tepatnya pas selasanya-, kita kan tahu mau ada lomba lagi. "Pesta Sains" di IPB juga, dan memang kita udah tau. Tapi kali ini, aku sama Raudha yang berencana ikut. Kita mau ikut LCT lagi, tapi Biologi untuk kalo ini.udah seminggu terakhir, kita nyari kelas 12 buat jadi satu anggota terakhir kelompok kita, tapi nihil. Awalnya Rani mau ikut KIR, tapi ternyata paling lambat dikumpulinnya tanggal satu Oktober, pas kita lagi ngomongin lomba itu, jadi ga jadi deh. Tapi dia katanya mikir lagi, dan akhirnya mutusin buat jadi anggota kelompok kita!
Meskipun kami (me n Rani) masih terbayang-bayang kejadian di LCTLH dua hari sebelumnya, tapi kami mencoba bangkit melalui lomba selanjutnya. Kami yakin masih ada kesempatan lain yang menunggu, Pesta Sains salah satunya. Jatuh. Ya bangkit lagi!
Last Night in London (Part 5)
Cast: - Liliyana Natsir
- Lee Yong Dae
- Ha Jung Eun
- Hendra Setiawan
- Others
Rating: G
Genre: Romance (?)
Author: SFN
*Jejeng~~~ *
(Backsound Ceritanya) Author menyapa kembali~~ Sebelumnya Author mau
menegaskan.. Ini hanyalah cerita fiktif belaka, apabila ada kesalahan tempat
maupun bahasa, mohon dimaklumi. Tapi untuk tempat-tempat di part 5 ini asli ada
di Londonnya, tapi bukan berarti beneran dikunjungi yg realnya ya~ *ngerti
kan?*. Dan untuk masalah bahasa, author mau minta maaf sebelumnya. Di part 4
kemarin mungkin terlalu banyak bahasa koreanya.. *Maklum terlalu bnyk nonton
drama korea n baca ff ._.* untung ada admin yg ngasih catetan kaki. Karena
kemaren banyak yang ngomen, jd di part 5 ini diminimalisir penggunaan bahasa
asingnya. Ok Kepanjangan kayanya..
Happy Reading
All~
RCL Please ^^
…………………………………………………………………………………………………………
“K..Kamu?”
Jung POV
“K..Kamu?”
Lelaki ini? Apa yang ia lakukan di sini?
“Oh Kau nona?
Hei! sedang apa di sini?”
“Kurasa itu
bukan pertanyaan yang tepat, Tuan.. Siapa?”
“Hendra..”
“Ya, Tuan
Hendra. Tanpa kuberitahu pasti anda sudah tau apa yang sedang kulakukan di
sini.” Pertanyaan aneh!
“Hahaha kau
benar Nona Jung” “Yasudah, aku mau membayar baju ini. Aku duluan.” Apa?! Begitu
saja?! Buang-buang waktu saja!
“Isshh!”
Author POV
“Hahaha kau
benar Nona Jung” “Yasudah, aku mau membayar baju ini. Aku duluan.” Hendra
berlalu
begitu saja.
“Isshh!”
Brukk.. Jung memasuki ruang ganti dengan
sedikit marah.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Pintu ruang
ganti disebelah ruangan yang dimasuki Jung terbuka. Liliyana keluar dengan
membawa beberapa kaus yang ia coba tadi.
“Sepertinya ini
lumayan. Tinggal kubayar ke kasir lalu pulang. Oh iya, aku harus pulang bersama
mereka, berarti setelah bayar aku harus mencari mereka.” Liliyana pun pergi
menuju kasir.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
@Kasir
“Untung
antriannya tidak panjang. Aku membayar di saat yang tepat.” Liliyana mengantri
di baris keempat.
“Kau.. Liliyana
Natsir kan?”
Liliyana menoleh
ke sumber suara yang didengarnya, dan ternyata itu….
Hendra
POV
“Ini
kembaliannya.. Terima Kasih.” Ucap penjaga kasir yang usianya sekitar 20 tahun
itu dengan sopan.
“Terima kasih”
Aku membalasnya dengan senyuman. Aku memasukkan kembaliannya ke kantung
celanaku. Aku membaca kembali Struk belanjaanku. Aku memeriksa dan
menghitung-hitung lagi semuanya. Saat aku mau membuangnya, kepalaku tak sengaja
memandang ke arahnya. Dia.. Ternyata Dia di sini…
“Kau.. Liliyana
Natsir kan?”
Ia menoleh ke
arahku. “Iya, aku Liliyana Natsir. Maaf anda siapa? Dan sepertinya anda orang
Indonesia.” Jelas ia tidak mengenaliku, lebih tepatnya tidak mengingatku.
“Oh, Sorry
sebelumnya, Aku Hendra Setiawan. Aku wartawan dari Indonesia. Aku lagi ngeliput
Olimpiade London 2012 ini. Dan Liliyana, sebelumnya kita pernah bertemu. Apa
kau ingat?”
“Benarkah?” Ia
mencoba mengingatnya. God.. Semoga ia ingat. “Ah.. Hendra? Ia ia.. Kau pernah
datang ke Pelatnas. Waktu itu kau mewawancaraiku dan Tontowi setelah kami
menjuarai Singapure SS 2011, benar kan?” Akhirnya ia ingat.. Thanks God….
“Dan aku
mewawancaraimu lagi setelah kau menjuarai All England kemarin.” Aku
menambahkan. “Ya ya kau benar. Oh iya Hendra, apakah kau sedang berbelanja
juga?”
“Iya, tapi aku
sudah selesai” Aku menunjukkan kantung belanjaku. Ia hanya ber’oh’ ria.
Sepertinya ada kesempatan bagus di sini. “Liliyana, apakah kau ada waktu malam
ini?” “Aku mau kau menjadi salah satu narasumberku mengenai Turnamen
Bulutangkis di Olimpiade ini.”
“Mm.. sepertinya
tidak ada. Baiklah aku bersedia. Kapan? “
“Kau datang saja
ke Restauran Steik di seberang hotel.. Aku akan menunggumu di sana.” Apakah ini
mimpi? Tapi aku belum mempercayainya. Ia akan menjadi narasumberku lagi! Dan
itu hal yang sangat besar untukku! “Oh iya, ini kartu namaku, hubungi aku
kalau-kalau terjadi sesuatu. Aku pergi dulu”
“Baiklah… Sampai
ketemu nanti malam.” Ia memberikan senyuman sebelum aku pergi. Senyuman yang
manis sekali, menurutku.
Liliyana POV
Wawancara nanti
malam? Tidak masalah. Tapi ada satu masalah yang harus ku atasi dulu. Semoga ia
bisa mengerti .
“Silahkan”
penjaga kasir itu menyapaku
“Oh iya, ini”
“Ini barangnya.
Terima Kasih.”
“Terima kasih”
Author POV
Liliyana keluar
dari toko itu dengan sekantung belanjaan yang berisi beberapa kaus yang ia
beli. Ia mengirim sms kepada Greys.
‘Greys, gue udah selese nih. Lu dimana?’ Ia
menekan tombol ‘Send’. Lalu tak lama, Liliyana menerima balasannya.
‘Kita ada di Le Bistro Savoir Faire Ci.
Cepetan kesini. Kita baru mau mesen makanan. Tempatnya di 42 New Oxford Street. Ditunggu ya, Ci’
42 New Oxford
Street ya.. Mmm.. Di peta sih kayanya ya.. lumayan lah dari sini.. Oke deh..
Let’s go~
Jung POV
“Terima Kasih”
Wuaaaa.. selesai sudah. Sekarang aku sudah mendapatkan apa yang kumau. Tunggu,
teman-temanku dimana?
“Jung! Di sini!”
Ah.. ternyata mereka di sana, akupun menghampiri mereka yang berdiri di dekat
pintu keluar. “Aku sudah selesai. Mianhe..
[1] membuat kalian menunggu lama. Sekarang kita ke mana?”
“Gwenchana[2] Jung-ah.. Sekarang kita
cari makan, sudah waktunya makan siang.” Hana benar, sekarang sudah jam 12
siang dan memang perutku sudah lapar.
“Oke… Mmm..
Sebaiknya kita makan di mana?” Aku mencari-cari Restauran yang tidak jauh dari
toko di peta. “Hana-ya sepertinya tempat yang banyak restaurannya itu di
sekitar New Oxford Street. Dan sepertinya tidak dekat dari The Plaza ini.”
“Baiklah.. Tidak
apa-apa kan kawan-kawan?”
“Lagian Hana-ya,
di The Plaza ini kan ada juga restaurannya. Kenapa kita ngga makan di situ
saja?” tanyaku kepada Hana yang disertai anggukan Ji Hyun dan Yon Joo.
“Ah.. Biarlah
kita makan di tempat lain. Jangan hanya di satu tempat saja. Aku juga kan ingin
tahu tempat-tempat di Oxford Street ini. Otte
[3]?”
“Arasso [4]…” “Dan ke restauran mana kita
sekarang?” tanya Ji Hyun pada Hana
“Mmm..
Sepertinya Le Bistro Savoir Faire menarik juga. Kajja! [5]”
@
Savoir Faire
Liliyana
POV
Huaaaah… Kenyang~ memang jika
sedang lapar apapun pasti dimakan, tapi aku hanya makan Caesar Salad dan
Chicken Leg with Mushroom and Juniper Berry Sauce saja dan itu cukup membuatku
kenyang ko.. Tapi tahukah kalian? Aku tidak memesan minuman di sini, aku
memutuskan akan membelinya nanti di luar. Kenapa? Karena di sini hanya menyediakan
Wine dan Champagne saja. Alhasil tenggorokanku sedikit seret.
“Guys gue udah
selese nih. Kalian udah belom. Cepetan pulang yu, gue mau beli minum di luar.
Seret nih.”
“Udah nih, Ci.
Semuanya udah ko’. Sama lah, kita-kita juga seret. Kan ga ada yang mesen
minuman di sini. Greys bawa minum tapi udah abis.”
“Udah yuk ah,
kita pulang. Sekalian beli minum dulu.” Ajak Ci Meli.
“je vous remercie de votre visite [6]” Seorang
pelayan mengucapkannya saat kami akan keluar restauran. Ya walaupun ini di London,
tapi restauran ini merupakan restauran Perancis, jadi suasananya sangat kental
dengan sentuhan-sentuhan khas Perancis.
Saat kami
membuka pintu restauran, kami berpapasan dengan beberapa orang yang mukanya
familiar menurutku. Aku memerhatikan mereka sambil menuju keluar restauran.
Saat aku sudah di luar, aku berhenti sejenak lalu berpikir. Mmm.. Mereka.. Ya!
Mereka itu Tim Bulutangkis wanita Korea! Apa yang sedang..
“Ci! Ayo!
Bengong aja… Katanya mau nyari minum..” Kata-kata Firda memotong pikiranku.
“Iya.. Iya..
Ayo”
Jung POV
Wuaaaa.. Kami
akan makan di Restauran Perancis… Senangnya~ Ah! Itu dia Restaurannya. Kami pun
memasuki Restauran itu. Saat di pintu masuk, kami berpapasan dengan orang-orang
yang sepertinya tidak asing di benakku. Ketika aku sudah berada di dalam
restauran, aku baru menyadarinya. “Itu… Liliyana Natsir kan?” Aku menengok ke
belakang untuk memastikannya, tapi mereka sudah pergi……
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Liliyana POV
Masih Sore.. Tidur dulu ah! Nanti malem kan
mau ada wawancara. So, biar ga terlalu cape mendingan tidur dulu sekarang. Nah,
set alarm jam 7 malem deh. Oh iya! Belum sms Yong Dae.
To: My Prince
Chagi, sepertinya malam ini aku ga bisa
ketemu dulu sama kamu. Aku ada wawancara mendadak. Mianhe ya Chagi.. Aku harap
kamu ngerti..
Drrrtt..
Drrttt.. Pasti balesan dari Yong Dae.
From: My Prince
Gwenchana Yana-ya.. Masih ada besok malamJ Wawancara mendadak? Baiklah.. Hati-hati ya
Chagi. Awas ada yang menculikmu nanti… wkwk ^^v
Leganya… Untung ia tidak marah. Tapi, apa maksudnya
ini? Selalu saja becanda di saat yang tidak tepat. Lagian siapa yang mau
menculik gadis tomboy sepertiku? Akan kuhajar mereka (Ceilah Cici… wkwk). Ok..
Waktunya Tidur~
Hendra POV
Tidak ada SMS
dari Liliyana. Sepertinya ia akan datang malam ini. Really Can’t Wait For This…
Akan menjadi malam yang saaangaatt menyenangkan… Untukku. Tenanglah, aku tidak
akan sejahat itu pada Liliyana. Aku hanya ingin memanfaatkan waktuku di London
yang sebentar ini bersama orang yang kusukai…………………
(To Be Continued)
Catatan”
[1] Maaf
[2]Tidak apa-apa
[3]Bagaimana?
[4] Baiklah../ Aku mengerti
[5]Ayo!
[6]Terima Kasih atas Kunjungan Anda
Jumat, 24 Agustus 2012
Last Night in London (Part 4)
Last Night in London (Part 4)
Cast: - Liliyana Natsir
- Lee Yong Dae
- Ha Jung Eun
- Hendra Setiawan
- Others
Rating: PG 15
Genre: Romance (?)
Author: SFN
Sebelumnya ada beberapa hal
yang mau author sampaikan:
1. Author
ulang lagi.. karena ini cerita fiksi, jadi tokohnya ada yg sesuai sama realnya
ada jg yg ngga.. soalnya masih banyak yg ngomenin soal itu.
2. Mengenai
bahasa. Dae-Yana pake Indonesia formal. Yana-kawan” Indonesia informal.
Jung-Hendra& Yana inggris.
3. Mungkin
nanti muncul pasangan” baru (?) belum tau juga sih~
Oke
Happy Reading all~~
Flashbak End
Liliyana POV
Hmm..
Huaahhhmm.. Di mana ini? Apa aku tertidur. Yong Dae? Ah aku baru ingat,
sepertinya kami tertidur di sini. Jam berapa ini? Huaahhmm.. apa?! Jam 00.30?!
aku harus cepat kembali ke kamar. Oh iya, Yong Dae.
Author POV
Liliyana
terbangun dari tidur nyenyaknya di bahu Yong Dae dengan lagu yang masih
berputar dari headset yang masih
terpasang di telinga mereka. ia baru menyadari bahwa sudah lewat tengah malam.
“Yong Dae! Yong
Dae bangunlah” Liliyana menepuk-nepuk pipi Yong Dae pelan.
“Nghh..” Yong
Dae menggeliat kecil, tapi ia belum bangun
“Astaga
bisa-bisanya ia tertidur sangat pulas di tempat seperti ini… Yong Dae Yong Dae”
“Yong Dae-a ayo bangun… cepatlah” Liliyana masih mencoba membangunkan LYD
“Hmm.. Ne? Hah?
Apakah aku tertidur?”
“Haaaaa…
Syukurlah akhirnya kau bangun juga. Ayo cepat kita harus kembali ke kamar
masing-masing sebelum mereka mencari kita”
“Ah iya kau
benar Ayo.. huaahhmm..” LYD masih terlihat mengantuk. Ia menggenggam tangan
Liliyana dan mereka pergi menuju lift.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Mereka sudah
tiba di lantai 10, Tempat Liliyana dan temen-temannya menginap.
“Yong Dae-a
sampai sini saja.”
“Baiklah” Yong
Dae setengah hati mengatakannya. Ia menarik Liliyana ke dalam pelukannya
“selamat tidur chagi, mimpi yang indah.” Liliyana membalas pelukannya. Mereka
berpelukkan cukup lama.
“Chagi.. ayo
lepaskan aku mau tidur” ucap Liliyana disela-sela pelukan. “Tidak mau..” LYD
malah mempererat pelukannya.
“Ayolah chagi~
cepat lepaskan. Aku mau tidur.” Liliyana masih membujuk Yong Dae “Lagian nanti
kalau ada yang liat bagaimana?”
“Tidak akan~
mereka semua pasti sudah tidur Yana-ya~” Manja Yong Dae
“Kan masih ada hari esok Yong Dae-a. Ayo cepat lepaskan aku.”
“Mmm baiklah
baik… Asal kau janji besok kita akan bertemu lagi.” Yong Dae mengatakannya
tepat di bahu Yana sembari memegang kedua bahunya.
“Kalau aku tidak
sibuk… Baiklah”
Yong Dae
mendekatkan wajahnya ke wajah Liliyana. 5 cm.. 3 cm.. 1 cm.. Cup.. Yong Dae
mencium kening Liliyana, cukup lama. Ia pun melepaskannya. Lalu memeluk Yana
lagi. Liliyana cukup syok atas perlakuan Yong Dae yang tiba-tiba meskipun ia
adalah kekasihnya. Yong Dae pun menaiki lift kembali karena kamarnya berada di
lantai 7.
“K..Kau
hati-hati. Tidur yang nyenyak” Liliyana masih sedikit syok.
“Dadah Chagi~
Mmmuah..”
“Ada-ada saja”
Batin Yana sembari kembali ke kamarnya sambil senyum-senyum sendiri.
“Ci Yana! Ayo
bangun~”
“Emm.. masih
ngantuk ah!”
“Cepetan bangun
Ci~” Greys menggoyang-goyangkan tubuh teman sekamarnya itu
“Masih ngantuk
Greys~”
“Kita-kita mau
jalan-jalan nih… Mau ikut ga?”
“Hah?!
Jalan-jalan? Ke mana? Ko baru ngasih tau sih? Belum mandi lagi nih” ucap Butet
seraya meninggalkan kasur untuk mandi.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Mau kemana sih?
Padahal gue masih ngantuk nih. Kalo bukan karena jalan-jalan mah gue mendingan
tidur sampe siang”
“Yah elu Ci,
pacaran mulu sih lo sama si Yong Dae” ledek Greys
“Hah?! Lu
semaleman pacaran sama si bocah Korea itu?! Pantesan semalem gue cariin ga
ketemu-ketemu” Timbal Meiliana.
“Apaan sih
kalian. Udah ah! Namanya juga jarang ketemu. Sekalinya ketemu pasti bawaannya
pengen mesra-mesraan melulu. Iya kan Ci?” Bela Firda.
“Nah tuh.. Bener
kata si Firda. Kalian mah iri aja sih. Lagian kalo ga tau masalahnya jangan so’
tau” Liliyana mengerucutkan bibirnya.
“Udah-udah. Gini
Ci, sekarang kita mau ke Oxford Street. Mau Shopping~” sela Greys.
“Iya hari ini
waktunya kita Shopping~”,”Sekalian melepas penat tet” Tambah Meiliana.
“Yaudah gue ikut
kalian-kalian aja”
Another
Side
“Jung! Jung! Ayo
cepat bangun!”
“Aku masih
ngantuk”
“Bangun Jung.
Kami mau pergi. Apa kau tidak apa-apa ditinggal sendiri?”
“Hana-shi aku
masih mengantuk, semalam aku tidak bisa tidur. Nanti aku menyusul saja.”
“Baiklah kalau
begitu. Kami pergi dulu. Kau harus menyusul kami, jangan tidak yah”
“Memangnya
kalian mau kemana?”
“Oxford Street”
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Jung POV
“Tuut..Tuut.. Yeoboseyo?” Ah akhirnya..
“Hana-shi! Apakah kalian masih di Oxford
Street?”
“Ne, kami masih di sini, Ppaliwa”
“Ne, aku segera menyusul”
Apa yang harus
kubawa? Sepertinya dompet dan Handphone saja
cukup. Hahhh… Harusnya aku bisa berangkat bersama mereka. Tapi aku baru saja
bangun jam sembilan. Semalaman aku tidak bisa tidur. Dan itu semua karena aku
masih memikirkannya. Yah, peristiwa kemarin. Aku belum bisa melupakannya hingga
sekarang, ditambah lagi orang yang bernama Hendra itu.
Flashback
Still Jung POV
*Percakapan dalam Bahasa Inggris*
Dia mau
membawaku kemana? Apa urusannya denganku? Dan siapa dia sebenarnya? Arghhh…
“Kita sudah
sampai”,”Dan kau, jangan coba-coba untuk berteriak atau..”
“Atau apa?!” Aku
memotong pembicaraannya. “Sebenarnya Kau ini siapa? Apa yang mau kau lakukan di
tempat ini?”
“Hei tenanglah
nona. Aku ini orang baik-baik. Kenalkan, aku Hendra Setiawan. Aku seorang
Wartawan dari Indonesia, tapi aku bukan paparazzi
seperti yang kau bicarakan. Aku sedang meliput mengenai Olimpiade London
ini. Dan tadi, di atap, aku sedang beristirahat dan kebetulan saja mereka
(Yana-Dae) ada di situ. Aku membawamu kemari agar tidak terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan yang bersangkutan dengan mereka. itu bisa menjadi skandal. Dan
kau tahu kan profesiku?. Nah sekarang apa kau puas dengan jawabanku?” Jelasnya
Panjang lebar
Oke semuanya
sudah jelas. “Tapi tetap saja! Mengapa kau membawaku dengan cara seperti ini?!
Kau tidak tahu cara memperlakukan perempuan ya?!” Gengsi, aku tetap mencoba
mengeles. Tapi memang benar kan? Walaupun niatnya baik tetap saja perlakuannya
tidak benar adanya.
“Kalau tidak
seperti itu pasti kau sudah berteriak pada Lee Yong Dae, itu benar kan?”
Gosh! Mengapa
kata-katanya selalu tepat sasaran. “T..Tapi kau bisa kan mengajakku ke bawah
dengan pelan, bukan membekap sambil menarikku seperti tadi.”
“Oke.. Oke
baiklah aku minta maaf atas kejadian tadi. Dan aku sarankan, apa yang kau lihat
tadi jangan beritahu siapa-siapa jika kau ingin karirmu selamat, mengerti?”
“Tanpa kau beritahupun aku pasti
melakukannya” batinku. “A.. Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha”
“Gadis baik,
kalau begitu aku pergi dulu” Hendra berlalu begitu saja sambil mengangkat
sebelah tangannya.
“Mwoya? Ya!! Nappeun Namja!”
Flashback End
Liliyana POV
Kami menyusuri
Oxford Street ini. Tak jarang kami singgah beberapa kali di toko-toko yang
menurut kami – Bukan, mereka maksudku -
bagus dan yang pasti harganya murah. Kalau aku sama Ci Meli sih belinya
gak jauh-jauh dari Topi, Jaket, Sepatu Kets, yah yang gitu-gitu aja. Kalau
mereka? Semuanya dibeli -_-
“Guys, kesini
dulu ya? Bentaran doang”
“Sip.. Hp on
terus ya.. Biar gampang ngehubunginnya” Ci Meli was-was biar aku ga ilang di
jalan.
“Sip..”
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Topi, jaket,
sepatu kets udah dapet. Beli apaan lagi? Bagus-bagus sih.. Tapi sayang juga.
Hei bukannya itu.. Ha Jung Eun? Iya iya itu dia. Wah kebetulan banget bisa
ketemu dia. Sama Lee Yong Dae ga ya?
Duh jadi kangen Nae namjachingu. Dia ikut Ha Jung Eun ga
ya?
“Jeprett..
Jepret”
Hah suara apaan
tuh? Ah bukan apa-apa. Toko itu kayanya barang-banrangnya bagus, Let’s See…
Author POV
Liliyana
mengunjungi toko yang ia liat. Tanpa disadari seseorang mengambil foto dirinya.
“Ndra.. Cepetan
Kesini.. Dia ada di sini.. Ya ya buruan sebelum dia balik ke hotel”
Ternyata Ha Jung
Eun memasuki toko yang sama dengan Liliyana karena teman-temannya pun sedang
berada disitu.
“Annyeong~” sapa Jung kepada semuanya.
“Annyeong.. Akhirnya kau sampai. Kau
lihat-lihat dulu saja. Kami belum selesai ko J”
Jawab Hana
“Mianhe :( Jeongmal? Wuaaaa Gomawo~ J “ ucap Jung sambil
membungkuk.
Jung pun
mencari-cari pakaian yang ia inginkan. Saat ia akan mencobanya…….
“Wah penuh..
Baiklah kutunggu di sini”
Satu pintu dari
4 ruangan yang tersedia terbuka. Dan ternyata…
“Ka..mu?”
(To Be
Continued)
Last Night in London (Part 3)
Last Night in London (Part 3)
Cast: - Liliyana Natsir
- Lee Yong Dae
- Other Cast
Genre: Romance (?)
Author: SFN
Hello (author nyapa lagi
ah)~.. Di Part 3 ini lebih menonjolkan Other castnya. Jadi di sini other
castnya ketauan pake banget. Ada tokoh yang perannya melenceng dari realnya.
Tapi semoga kalian menikmati.. haha Dan sepertinya akan menjadi cerita yang
panjang ._.v
Ok Happy Reading All~~
Author POV
LYD
masih meneruskan ceritanya, sesekali ia mengusap air mata Liliyana sembari
bergurau agar kekasihnya tersenyum. Mereka terlarut dalam kesedihan yang justru
membuat kesan romantis di antara keduanya. Apalagi setelah sekian lama mereka
tidak bercengkrama seperti itu. Semuanya malah terlihat indah. Tapi tidak dari
sudut pandang dua pasang mata yang memerhatikan mereka dari kejauhan.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
FLASHBACK
Ha Jung Eun POV
Haaaahh….
sebentar lagi olimpiade usai. Kami sudah harus bersiap-siap. Apalagi tugas
kami, para atlet bulutangkis sudah selesai dari beberapa hari yang lalu. Ya
meskipun aku dan tiga rekanku didiskualifikasi saat di QF – da itu membuat kami
sangat terpukul – tapi di samping itu kami jadi memiliki waktu yang lebih
banyak untuk berjala-jalan berkeliling kota London disaat yang lain bertanding
:p. Tapi kami tetap mendukung teman senegara kami LYD/CJS saat bertanding ko….
Walaupun mereka tidak dapat medali emas, tapi kami tetap bangga dengan
kegigihan mereka hingga mendapatkan medali perunggu.
yes pi sha la la la la ye pi i so mi cho
ye pi sha la la la la ye pi i tul swo pho
ye pi sha la la la la ye pi i tul swo pho
“Dari pelatih.”
Ya
Jung! Kemana saja kau? Cepat kemari! Kami sudah di restoran sejak tadi. Apa kau lupa akan makan malam ini? Oh ya,
sampaikan juga pada Lee Yong Dae dan Kim Ha na. Mereka susah sekali
dihubungi.
Oh my god! Aku
lupa malam ini ada makan malam bersam a untuk para kontingen Korea cabor
bulutangkis. Ini seperti Farewell Party di
penghujung turnamen bulutangkis di olimpiade ini. Oh tidak aku harus
cepat-cepat mengganti pakaianku dan bersiap-siap.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Semua sudah siap. Oh ya! Aku harus
mencari Ha Na dan Yong Dae. Kemana sih mereka? Menyusahkanku saja!
Author POV
Setelah Jung siap ia pun bergegas
mencari kedua temannya itu. Ia terus mencoba menghubungi mereka, tapi hasilnya
nihil. Saat ia akan menayakannya pada Resepsionis di lobi hotel, “Jung!” “Ha na? kemana saja kau? Aku menghubungimu
daritadi tapi kau tidak mengangkatnya sama sekali.” Tanya Jung yang kesal
bercampur khawatir.
“Maaf, tadi aku jalan-jalan keluar
sebentar. Handphoneku Low Batery jadi
aku tidak bisa menerima panggilan darimu.
Dan aku baru ingat bahwa malam ini ada Farewell Party, tapi aku sudah siap sekarang.” Jelas Ha Na panjang
lebar
“Baik baik. Tapi Ha Na, apakah kamu
melihat Yong Dae? Ia pun belum hadir di restauran dan pelatih menyuruhku
mencarinya. Dan ia pun tidak bisa dihubungi sepertimu. Bahkan aku sempat heran
mengapa kalian bisa kompak seperti ini.”
“ Yong Dae? Aku belum melihatnya
hari ini. Handphonenya juga tidak bisa dihubungi? Coba kau tanya pelayan atau
resepsionis di sini, mungkin mereka melihatnya.” Saran Ha Na. “Oh ya Jung, aku
duluan ya? Aku tidak mau pelatih tambah marah kepadaku. Maaf aku tidak
membantumu mencari Yong dae. Tapi tenang saja, aku akan memberikan alasan
terbaik kepada pelatih atas keterlambatanmu nanti.”
“Yasudah , tapi awas saja kalau kau
tidak melakukannya, akan kuhabisi kau nanti.” Jung memperagakan seseorang yang
sedang meninju.
“Kau tenang saja. Tapi berdoalah
supaya aku tidak lupa.” Goda Ha Na kepada Jung yang disambungnya dengan lari
kecil.
“Ya!”
Ha Jung Eun POV
“ Maaf, apakah anda melihat Lee
Yong Dae lewat sini?”
“Maaf saya tidak melihatnya.”
“Benarkah? Terima kasih”
Haduh kemana sih Yong Dae? Makan
malamnya sudah dimulai. Aku tidak ingin kehabisan makanan hanya gara-gara
mencari-cari bocah itu. Haishh..
“Permisi, apakah anda sedang
mencari Tuan Lee Yong Dae?” sapa seorang pelayan dari arah belakang.
“Benar, apakah anda melihatnya?”
aku menaruh harapan besar bahwa ia akan mengatakan ‘ya’.
“Beberapa waktu yang lalu aku
menaiki lift yang sama dengannya. Kalau saya tidak salah lihat, ia pergi menuju
atap hotel.”
“Benarkah?” Untuk apa ia kesana?
“Baiklah kalau begitu, terima kasih.”
Aku bergegas naik lift menuju atap
hotel. Tidak butuh waktu lama aku sudah sampai di sana. Aku mengedarkan
pandanganku unuk menemukannya. Ah! Itu dia. Tapi tunggu, ia sedang bersama
siapa? Sepertinya aku harus lebih dekat untuk mengetahuinya.
Author POV
Jung berjalan mendekat ke arah Yong
Dea. Ia berhenti sekitar 10 meter dari tempat Yong Dae. “Siapa itu?” “Itu..
Bukankah itu.. Li..Liliyana Natsir?” Jung kaget dengan apa yang dilihatnya.
“Tapi apa yang mereka lakukan di sini? Dan.. dan mereka saling berpelukan
seperti itu. Apaakah mereka berpacaran? Apa dia sudah gila?! Apa ia mau
menghancurkan karirnya sendiri?” Jung marah-marah sendiri. Ia sangat kaget,
marah, sekaligus khawatir, melebihi seseorang yang mengkhawatirkan temannya.
“Eottokhe?”
Ia masih tidak percaya. Ia masih
gusar dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya berdiri di situ, matanya
berkaca-kaca dan terus menggigit bibir bawahnya. Bahkan ia sudah lupa akan Farewell Partynya.
“Hei Kau! Apa yang kau lakukan di
situ? “
Ha Jung Eun POV
“Hei kau! Apa yang kau lakukan di
situ?” Suara siapa itu? Aku mencari asal suara dan saat aku menoleh ke samping
kiri, “Iya kau, apa yang kau lakukan di sini? Kau sedang memerhatikan mereka
juga?” orang yang ternyata lelaki itu menunjuk Dae dan liliyana dengan dagunya.
“Siapa kau? Apa urusanmu? Dan apa
yang kau lakukan di sini? Kau membuntuti mereka? Kau paparazzi ya?!” Aku
mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya dengan memberinya seberondong
pertanyaan.
“Hei pelan-pelan nona. Aku akan
menjawab semuanya tapi tidak disini.” Dia mencoba menarik tanganku.
“Apa yang lakukan?!” aku setengah
berteriak. Tapi itu tidak sampai terdengar ke tempat LYD dan Liliyana karena
memang jarak yang cukup jauh dan sepertinya mereka sedang mendengarkan lagu
menggunakan Headset bersama. “Lee
Yong D..Hmmpp..” teriakanku tertahan karena ia membekap mulutku dan mencoba
menarikku pergi dari situ.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Hendra Setiawan POV
Tanpa diduga-duga aku ditugaskan ke
London untuk meliput dan mencari-cari berita mengenai Olimpiade ini. Hah.. Dan
enaknya aku ditempatkan di hotel yang mayoritas penghuninya adalah para atlet,
ya walaupun sulit mewawancarai mereka.
Hari ini aku diberi waktu istirahat
karena yang sedang bertugas adalah rekanku. Aku memilih bersantai di atap hotel
ini. Suasananya membuatku rileks. Aku hanya ditemani sekaleng minuman dingin
yang kubeli di minimarket tadi.
Aku sangat senang meliput
turnamen-turnamen olahraga, khususnya bulutangkis. Bahkan bulutangkis merupakan
cabor yang paling kusuka untuk diliput
di olimpiade ini. Aku memang menyukai bulutangkis sejak lama. Tapi disamping
itu, aku jadi bisa lebih sering melihatnya…..
Ah.. ya dia wanita yang bisa
dibilang kusukai. Ia seorang atlet bulutangkis di sektor Mixed Double.
Sudahlah, ceritanya panjang kawan.
Hei bukankah itu? Sedang apa dia
disini? Aku harus mengambil gambarnya untuk beritaku, sekaligus untuk koleksi
pribadiku. Untungnya aku membawa kamera. ‘cklik..cklik’ bagus sekali. Harus
kuperbanyak untuk koleksiku.
Tunggu.. siapa itu? Itu Lee Yong
dae kan? Untuk apa dia ke sini? Hei Hei apa yang ia lakukan dengannya? Apa aku
tidak salah lihat? Mereka ber-pe-lu-kan?
Author POV
Hendra sedang asyik memotonya ketika
tiba-tiba saja Lee Yong Dae datang dan langsung memeluknya. Ya, Liliyana
Natsir. Sudah pasti Hendra sangat sangat terkejut. Tapi mereka tidak bisa
melihat Hendra karena posisinya yang cukup jauh dan sedikit terhalangi tembok
(kebayang kan? ._.v). Ia terus memerhatikan mereka. Mereka masih berpelukan.
“Tunggu, Liliyana kenapa?
Sepertinya ia tidak suka dengan omongan Yong Dae” Hendra melihat Yana yang
meninggalkan Yong Dae menuju bangku dekat situ. Ia terus memerhatikan mereka.
“Aishhh.. Kalian berhutang padaku!
Kalau aku bukan orang yang baik ini pasti sudah menjadi Headline News besok pagi.” Gerutunya. “Asal tau saja banyak atlet
yang terlibat cinta lokasi seperti kalian, tapi mereka berterus terang. Ini?
Seakan akan mereka tengah membuat skandal yang besar.”
Hendra POV
Asal tau saja banyak atlet yang
terlibat cinta lokasi seperti kalian, tapi mereka berterus terang. Ini? Seakan
akan mereka tengah membuat skandal yang besar. Aku sangat tidak suka dengap
sikap mereka. atau mungkin aku tidak suka karena…..
Apa lagi ini?! Siapa wanita di
belakang itu? Sepertinya ia satu bangsa dengan LYD. Ckck.. Mereka benar-benar
dalam masalah besar. Bagaimana kalau ada Paparazzi?
Wanita di belakang itu.. terlihat
sangat ..gusar. Sepertinya akan timbul
masalah jika wanita itu terus di sini.
Author POV
“Sepertinya akan timbul masalah
jika wanita itu terus di sini.” Hendra memustuskan menghampiri wanita Korea
yang memakai gaun ungu selutut itu.
“Hei Kau! Apa yang kau lakukan di
situ? “ Tanya Hendra dengan pelan namun dapat membuat wanita itu ketakutan.
Wanita itu yang tak lain adalah
Jung mencari asal suara dan saat ia menoleh ke samping kiri, “Iya kau, apa yang
kau lakukan di sini? Kau sedang memerhatikan mereka juga?” Hendra menunjuk Dae
dan liliyana dengan dagunya.
“Siapa kau? Apa urusanmu? Dan apa
yang kau lakukan di sini? Kau membuntuti mereka? Kau paparazzi ya?!” Jung
mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya dengan memberinya seberondong
pertanyaan.
“Hei pelan-pelan nona. Aku akan
menjawab semuanya tapi tidak disini.” Hendra mencoba menarik tangan Jung.
“Apa yang lakukan?!” Jung setengah
berteriak. Tapi itu tidak sampai terdengar ke tempat LYD dan Liliyana karena
memang jarak yang cukup jauh dan sepertinya mereka sedang mendengarkan lagu
menggunakan Headset bersama. “Lee
Yong D..Hmmpp..” teriakan Jung tertahan karena Hendra membekap mulut Jung dan
mencoba menarikku pergi dari situ.
(To Be Continued)
Last Night in London (Part 2)
Last Night in London (Part 2)
Cast: - Disini pasti ketauan
- Others
Rating: Romance (?)
Author: SFN (Author ttp sama
ko ._.v )
Hello (author nyapa dulu
bentar)~ ini part 2nya. Oh ya mau ngasih tau dulu. Ini kan cerita fiksi, nah
tokoh” di cerita ini tuh ada yg sesuai sama yg realnya ada juga yg ngga. Jadi
ya kalo aga-aga melenceng dikit ga pp dong? ^^ Dan di part ini lebih
menonjolkan tokoh utama dulu. Kalo aga monoton ya dimaklum… Ok happy reading
all~
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Apa yang kau
lakukan di sini?”
“Kk..Kau..”
,“Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu?”
“Benarkah?
Mmm.. Baiklah… Aku hanya mencari angin
segar dan kebetulan saja aku melihatmu.” Jawabnya dengan enteng. “Lalu apa yang
kau lakukan di sini? Kau melamun hingga kedatanganku saja tidak kau sadari.”
“Tidak.. Tidak
ada.” Liliyana menjawab sekenanya.
“Aku
tahu dirimu Liliyana~” ucap lelaki itu dengan nada manja. “Ayo katakan, apa
yang sedang kau lakukan di sini?”
“Baiklah..
Baik. Aku sedang mencoba menenangkan pikiranku dari suatu masalah. Dan.. Aku
yakin kau sudah tahu masalahnya” Liliyana berusaha menjawab pertanyaan
kekasihnya itu.
“Mmmm… Benarkah?
Aku tidak yakin.” Lelaki itu berpura-pura berpikir.
“Kau ini..
daritadi kau hanya mengucapkan ‘Benarkah?’ apa tidak ada kata-kata lain?”
“Memangnya
kata-kata apa yang kau butuhkan? Aku merindukanmu? Aku menyayangimu? Atau aku
cinta.. padamu? Hahaha” Godanya pada liliyana.
“Kau
masih bisa bercanda?” Timpal Liliyana ketus. Bahkan ia mencoba melepas pelukan
lelaki itu. Tapi lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukannya sembari
menempatkan dagunya di bahu Yana. “Jangan cemberut terus dong… nanti jadi jelek.”
Candanya lagi yang bermaksud mencairkan suasana hati Yana yang memang sedang
buruk.
“Kau
bercanda di saat yang tidak tepat Yong Dae-a.”
Kali ini Yana benar-benar melepas pelukan Yong Dae dan pergi menuju
bangku yang tidak jauh dari situ.
Yong
Dae hanya bisa menghela napas dan tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Ia
menghampiri Yana. “Ayolah… Bukankah kalah menang itu merupakan hal biasa
bagimu.. Bukan, bagi kita maksudku.”
“Ini
berbeda.. Sangat berbeda Yong Dae-a. Ini olimpiade. Berbeda dengan turnamen
lainnya. Ini Olimpiade.”
“Tapi
jangan terlalu lama terlarut dalam kesedihan chagi. Aku tau kau sangat sedih
dan kecewa. Tapi jangan siksa dirimu dengan perasaan itu. Masih banyak turnamen
lain yang menunggumu.” Yong dae terus menyemangati Yana.
“Tapi..
Tapi ini target terbesar dalam karirku. 4 tahun lalu aku sudah gagal. Dan
sekarang, aku pun tidak berhasil bahkan medali perunggu sekalipun. Dan 4 tahun
mendatang.. aku tidak tahu. Mungkin aku sudah pensiun.” Mata Liliyana sudah
berkaca-kaca.
Lee
Yong Dae tidak tega melihat Liliyana yang mulai menangis. Ia merangkulnya dan
menyenderkan kepala Yana di bahunya. “ Aku tahu perasaanmu. Menangislah…
Menagislah sepuasmu, selama itu dibahuku.”
Yong Dae menepuk-nepuk bahu Liliyana.
“Aku
pun merasakan apa yang kamu rasakan. Yah walaupun tak serupa.” Yong Dae
bercerita untuk menghibur Yana. “Aku memang mendapat medali perunggu sebagai
pengganti kegagalanku mendapat medali emas. Tapi tahukah kau? Dibalik semua itu
tersimpan kesedihan yang lebih besar dibandingkan tidak mendapat medali emas.”
Liliyana hanya terisak dan mencoba mendengarkan Yong Dae.
“Hyung
(Chung Jae Sung), setelah olimpiade ini ia memutuskan gantung raket. Dan itu
membuatku sangat… sedih.” Air muka Yong Dae berubah sedih saat mengatakannya
dan itu terlihat oleh Liliyana saat ia tidak sengaja melirik wajah Yong Dae.
“Kami
sudah mempersiapkan ini sejak lama demi medali emas itu. Tapi takdir berkata
lain. Kami kalah di SF dan sekarang kami hanya dapat perunggu.” Liliyana
menggenggam tangan Yong Dae dan mencoba menegarkan kekasihnya. “Aku sudah tau
akan hal ini, jadi aku berusaha sekeras mungkin, begitu juga hyung. Agar di
akhir karirnya ia memiliki kenangan yang indah. Tapi tuhan memiliki rencana
lain. Jujur saat itu aku belum bisa menerimanya. Tapi hyung justru terlihat
tegar dan ia terus menyemangatiku. Ia bilang ‘Kita masih memiliki kesempatan
untuk mendapat medali perunggu, jadi semangatlah.’
LYD POV
Ia
bilang ‘Kita masih memiliki kesempatan untuk mendapat medali perunggu, jadi
semangatlah.’ Aku menceritakan semuanya pada Liliyana. Awalnya aku hanya ingin
menghiburnya. Tapi malah jadi seperti ini. Kesedihan itu muncul lagi. Aku
mencoba untuk tetap tersenyum di depan Liliyana. Ia menggenggam tanganku,
sekarang ia yang mencoba menegarkanku.
Author POV
LYD
masih meneruskan ceritanya, sesekali ia mengusap air mata Liliyana sembari bergurau
agar kekasihnya tersenyum. Mereka terlarut dalam kesedihan yang justru membuat
kesan romantis di antara keduanya. Apalagi setelah sekian lama mereka tidak
bercengkrama seperti itu. Semuanya malah terlihat indah. Tapi tidak dari sudut
pandang dua pasang mata yang memerhatikan mereka dari kejauhan.
(To
Be Continued)
Langganan:
Postingan (Atom)