Jumat, 24 Agustus 2012

Last Night in London (Part 2)


Last Night in London (Part 2)
Cast:    - Disini pasti ketauan
            - Others
Rating: Romance (?)
Author: SFN (Author ttp sama ko ._.v )

Hello (author nyapa dulu bentar)~ ini part 2nya. Oh ya mau ngasih tau dulu. Ini kan cerita fiksi, nah tokoh” di cerita ini tuh ada yg sesuai sama yg realnya ada juga yg ngga. Jadi ya kalo aga-aga melenceng dikit ga pp dong? ^^ Dan di part ini lebih menonjolkan tokoh utama dulu. Kalo aga monoton ya dimaklum… Ok happy reading all~

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Kk..Kau..” ,“Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu?”
“Benarkah? Mmm.. Baiklah…  Aku hanya mencari angin segar dan kebetulan saja aku melihatmu.” Jawabnya dengan enteng. “Lalu apa yang kau lakukan di sini? Kau melamun hingga kedatanganku saja tidak kau sadari.”
“Tidak.. Tidak ada.” Liliyana menjawab sekenanya.
“Aku tahu dirimu Liliyana~” ucap lelaki itu dengan nada manja. “Ayo katakan, apa yang sedang kau lakukan di sini?”
“Baiklah.. Baik. Aku sedang mencoba menenangkan pikiranku dari suatu masalah. Dan.. Aku yakin kau sudah tahu masalahnya” Liliyana berusaha menjawab pertanyaan kekasihnya itu.
“Mmmm… Benarkah? Aku tidak yakin.” Lelaki itu berpura-pura berpikir.
“Kau ini.. daritadi kau hanya mengucapkan ‘Benarkah?’ apa tidak ada kata-kata lain?”
“Memangnya kata-kata apa yang kau butuhkan? Aku merindukanmu? Aku menyayangimu? Atau aku cinta.. padamu? Hahaha” Godanya pada liliyana.
“Kau masih bisa bercanda?” Timpal Liliyana ketus. Bahkan ia mencoba melepas pelukan lelaki itu. Tapi lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukannya sembari menempatkan dagunya di bahu Yana. “Jangan cemberut terus dong… nanti jadi jelek.” Candanya lagi yang bermaksud mencairkan suasana hati Yana yang memang sedang buruk.
“Kau bercanda di saat yang tidak tepat Yong Dae-a.”  Kali ini Yana benar-benar melepas pelukan Yong Dae dan pergi menuju bangku yang tidak jauh dari situ.
Yong Dae hanya bisa menghela napas dan tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Ia menghampiri Yana. “Ayolah… Bukankah kalah menang itu merupakan hal biasa bagimu.. Bukan, bagi kita maksudku.”
“Ini berbeda.. Sangat berbeda Yong Dae-a. Ini olimpiade. Berbeda dengan turnamen lainnya. Ini Olimpiade.”
“Tapi jangan terlalu lama terlarut dalam kesedihan chagi. Aku tau kau sangat sedih dan kecewa. Tapi jangan siksa dirimu dengan perasaan itu. Masih banyak turnamen lain yang menunggumu.” Yong dae terus menyemangati Yana.
“Tapi.. Tapi ini target terbesar dalam karirku. 4 tahun lalu aku sudah gagal. Dan sekarang, aku pun tidak berhasil bahkan medali perunggu sekalipun. Dan 4 tahun mendatang.. aku tidak tahu. Mungkin aku sudah pensiun.” Mata Liliyana sudah berkaca-kaca.
Lee Yong Dae tidak tega melihat Liliyana yang mulai menangis. Ia merangkulnya dan menyenderkan kepala Yana di bahunya. “ Aku tahu perasaanmu. Menangislah… Menagislah sepuasmu, selama itu dibahuku.”  Yong Dae menepuk-nepuk bahu Liliyana.
“Aku pun merasakan apa yang kamu rasakan. Yah walaupun tak serupa.” Yong Dae bercerita untuk menghibur Yana. “Aku memang mendapat medali perunggu sebagai pengganti kegagalanku mendapat medali emas. Tapi tahukah kau? Dibalik semua itu tersimpan kesedihan yang lebih besar dibandingkan tidak mendapat medali emas.” Liliyana hanya terisak dan mencoba mendengarkan Yong Dae.
“Hyung (Chung Jae Sung), setelah olimpiade ini ia memutuskan gantung raket. Dan itu membuatku sangat… sedih.” Air muka Yong Dae berubah sedih saat mengatakannya dan itu terlihat oleh Liliyana saat ia tidak sengaja melirik wajah Yong Dae.
“Kami sudah mempersiapkan ini sejak lama demi medali emas itu. Tapi takdir berkata lain. Kami kalah di SF dan sekarang kami hanya dapat perunggu.” Liliyana menggenggam tangan Yong Dae dan mencoba menegarkan kekasihnya. “Aku sudah tau akan hal ini, jadi aku berusaha sekeras mungkin, begitu juga hyung. Agar di akhir karirnya ia memiliki kenangan yang indah. Tapi tuhan memiliki rencana lain. Jujur saat itu aku belum bisa menerimanya. Tapi hyung justru terlihat tegar dan ia terus menyemangatiku. Ia bilang ‘Kita masih memiliki kesempatan untuk mendapat medali perunggu, jadi semangatlah.’

LYD POV
Ia bilang ‘Kita masih memiliki kesempatan untuk mendapat medali perunggu, jadi semangatlah.’ Aku menceritakan semuanya pada Liliyana. Awalnya aku hanya ingin menghiburnya. Tapi malah jadi seperti ini. Kesedihan itu muncul lagi. Aku mencoba untuk tetap tersenyum di depan Liliyana. Ia menggenggam tanganku, sekarang ia yang mencoba menegarkanku.

Author POV
LYD masih meneruskan ceritanya, sesekali ia mengusap air mata Liliyana sembari bergurau agar kekasihnya tersenyum. Mereka terlarut dalam kesedihan yang justru membuat kesan romantis di antara keduanya. Apalagi setelah sekian lama mereka tidak bercengkrama seperti itu. Semuanya malah terlihat indah. Tapi tidak dari sudut pandang dua pasang mata yang memerhatikan mereka dari kejauhan.       
(To Be Continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar