Last Night in London (Part 2)
Cast: - Disini pasti ketauan
- Others
Rating: Romance (?)
Author: SFN (Author ttp sama
ko ._.v )
Hello (author nyapa dulu
bentar)~ ini part 2nya. Oh ya mau ngasih tau dulu. Ini kan cerita fiksi, nah
tokoh” di cerita ini tuh ada yg sesuai sama yg realnya ada juga yg ngga. Jadi
ya kalo aga-aga melenceng dikit ga pp dong? ^^ Dan di part ini lebih
menonjolkan tokoh utama dulu. Kalo aga monoton ya dimaklum… Ok happy reading
all~
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Apa yang kau
lakukan di sini?”
“Kk..Kau..”
,“Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu?”
“Benarkah?
Mmm.. Baiklah… Aku hanya mencari angin
segar dan kebetulan saja aku melihatmu.” Jawabnya dengan enteng. “Lalu apa yang
kau lakukan di sini? Kau melamun hingga kedatanganku saja tidak kau sadari.”
“Tidak.. Tidak
ada.” Liliyana menjawab sekenanya.
“Aku
tahu dirimu Liliyana~” ucap lelaki itu dengan nada manja. “Ayo katakan, apa
yang sedang kau lakukan di sini?”
“Baiklah..
Baik. Aku sedang mencoba menenangkan pikiranku dari suatu masalah. Dan.. Aku
yakin kau sudah tahu masalahnya” Liliyana berusaha menjawab pertanyaan
kekasihnya itu.
“Mmmm… Benarkah?
Aku tidak yakin.” Lelaki itu berpura-pura berpikir.
“Kau ini..
daritadi kau hanya mengucapkan ‘Benarkah?’ apa tidak ada kata-kata lain?”
“Memangnya
kata-kata apa yang kau butuhkan? Aku merindukanmu? Aku menyayangimu? Atau aku
cinta.. padamu? Hahaha” Godanya pada liliyana.
“Kau
masih bisa bercanda?” Timpal Liliyana ketus. Bahkan ia mencoba melepas pelukan
lelaki itu. Tapi lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukannya sembari
menempatkan dagunya di bahu Yana. “Jangan cemberut terus dong… nanti jadi jelek.”
Candanya lagi yang bermaksud mencairkan suasana hati Yana yang memang sedang
buruk.
“Kau
bercanda di saat yang tidak tepat Yong Dae-a.”
Kali ini Yana benar-benar melepas pelukan Yong Dae dan pergi menuju
bangku yang tidak jauh dari situ.
Yong
Dae hanya bisa menghela napas dan tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Ia
menghampiri Yana. “Ayolah… Bukankah kalah menang itu merupakan hal biasa
bagimu.. Bukan, bagi kita maksudku.”
“Ini
berbeda.. Sangat berbeda Yong Dae-a. Ini olimpiade. Berbeda dengan turnamen
lainnya. Ini Olimpiade.”
“Tapi
jangan terlalu lama terlarut dalam kesedihan chagi. Aku tau kau sangat sedih
dan kecewa. Tapi jangan siksa dirimu dengan perasaan itu. Masih banyak turnamen
lain yang menunggumu.” Yong dae terus menyemangati Yana.
“Tapi..
Tapi ini target terbesar dalam karirku. 4 tahun lalu aku sudah gagal. Dan
sekarang, aku pun tidak berhasil bahkan medali perunggu sekalipun. Dan 4 tahun
mendatang.. aku tidak tahu. Mungkin aku sudah pensiun.” Mata Liliyana sudah
berkaca-kaca.
Lee
Yong Dae tidak tega melihat Liliyana yang mulai menangis. Ia merangkulnya dan
menyenderkan kepala Yana di bahunya. “ Aku tahu perasaanmu. Menangislah…
Menagislah sepuasmu, selama itu dibahuku.”
Yong Dae menepuk-nepuk bahu Liliyana.
“Aku
pun merasakan apa yang kamu rasakan. Yah walaupun tak serupa.” Yong Dae
bercerita untuk menghibur Yana. “Aku memang mendapat medali perunggu sebagai
pengganti kegagalanku mendapat medali emas. Tapi tahukah kau? Dibalik semua itu
tersimpan kesedihan yang lebih besar dibandingkan tidak mendapat medali emas.”
Liliyana hanya terisak dan mencoba mendengarkan Yong Dae.
“Hyung
(Chung Jae Sung), setelah olimpiade ini ia memutuskan gantung raket. Dan itu
membuatku sangat… sedih.” Air muka Yong Dae berubah sedih saat mengatakannya
dan itu terlihat oleh Liliyana saat ia tidak sengaja melirik wajah Yong Dae.
“Kami
sudah mempersiapkan ini sejak lama demi medali emas itu. Tapi takdir berkata
lain. Kami kalah di SF dan sekarang kami hanya dapat perunggu.” Liliyana
menggenggam tangan Yong Dae dan mencoba menegarkan kekasihnya. “Aku sudah tau
akan hal ini, jadi aku berusaha sekeras mungkin, begitu juga hyung. Agar di
akhir karirnya ia memiliki kenangan yang indah. Tapi tuhan memiliki rencana
lain. Jujur saat itu aku belum bisa menerimanya. Tapi hyung justru terlihat
tegar dan ia terus menyemangatiku. Ia bilang ‘Kita masih memiliki kesempatan
untuk mendapat medali perunggu, jadi semangatlah.’
LYD POV
Ia
bilang ‘Kita masih memiliki kesempatan untuk mendapat medali perunggu, jadi
semangatlah.’ Aku menceritakan semuanya pada Liliyana. Awalnya aku hanya ingin
menghiburnya. Tapi malah jadi seperti ini. Kesedihan itu muncul lagi. Aku
mencoba untuk tetap tersenyum di depan Liliyana. Ia menggenggam tanganku,
sekarang ia yang mencoba menegarkanku.
Author POV
LYD
masih meneruskan ceritanya, sesekali ia mengusap air mata Liliyana sembari bergurau
agar kekasihnya tersenyum. Mereka terlarut dalam kesedihan yang justru membuat
kesan romantis di antara keduanya. Apalagi setelah sekian lama mereka tidak
bercengkrama seperti itu. Semuanya malah terlihat indah. Tapi tidak dari sudut
pandang dua pasang mata yang memerhatikan mereka dari kejauhan.
(To
Be Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar