Jumat, 24 Agustus 2012

Last Night in London (Part 4)


Last Night in London (Part 4)
Cast:    - Liliyana Natsir
            - Lee Yong Dae
             - Ha Jung Eun
             - Hendra Setiawan
             - Others
Rating: PG 15
Genre: Romance (?)
Author: SFN

Sebelumnya ada beberapa hal yang mau author sampaikan:
1.      Author ulang lagi.. karena ini cerita fiksi, jadi tokohnya ada yg sesuai sama realnya ada jg yg ngga.. soalnya masih banyak yg ngomenin soal itu.
2.      Mengenai bahasa. Dae-Yana pake Indonesia formal. Yana-kawan” Indonesia informal. Jung-Hendra& Yana inggris.
3.      Mungkin nanti muncul pasangan” baru (?) belum tau juga sih~

Oke Happy Reading all~~
Flashbak End
Liliyana POV
Hmm.. Huaahhhmm.. Di mana ini? Apa aku tertidur. Yong Dae? Ah aku baru ingat, sepertinya kami tertidur di sini. Jam berapa ini? Huaahhmm.. apa?! Jam 00.30?! aku harus cepat kembali ke kamar. Oh iya, Yong Dae.

Author POV
Liliyana terbangun dari tidur nyenyaknya di bahu Yong Dae dengan lagu yang masih berputar dari headset yang masih terpasang di telinga mereka. ia baru menyadari bahwa sudah lewat tengah malam.
“Yong Dae! Yong Dae bangunlah” Liliyana menepuk-nepuk pipi Yong Dae pelan.
“Nghh..” Yong Dae menggeliat kecil, tapi ia belum bangun
“Astaga bisa-bisanya ia tertidur sangat pulas di tempat seperti ini… Yong Dae Yong Dae” “Yong Dae-a ayo bangun… cepatlah” Liliyana masih mencoba membangunkan LYD
“Hmm.. Ne? Hah? Apakah aku tertidur?”
“Haaaaa… Syukurlah akhirnya kau bangun juga. Ayo cepat kita harus kembali ke kamar masing-masing sebelum mereka mencari kita”
“Ah iya kau benar Ayo.. huaahhmm..” LYD masih terlihat mengantuk. Ia menggenggam tangan Liliyana dan mereka pergi menuju lift.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Mereka sudah tiba di lantai 10, Tempat Liliyana dan temen-temannya menginap.
“Yong Dae-a sampai sini saja.”
“Baiklah” Yong Dae setengah hati mengatakannya. Ia menarik Liliyana ke dalam pelukannya “selamat tidur chagi, mimpi yang indah.” Liliyana membalas pelukannya. Mereka berpelukkan cukup lama.
“Chagi.. ayo lepaskan aku mau tidur” ucap Liliyana disela-sela pelukan. “Tidak mau..” LYD malah mempererat pelukannya.
“Ayolah chagi~ cepat lepaskan. Aku mau tidur.” Liliyana masih membujuk Yong Dae “Lagian nanti kalau ada yang liat bagaimana?”
“Tidak akan~ mereka semua pasti sudah tidur Yana-ya~” Manja Yong Dae

“Kan masih ada hari esok Yong Dae-a. Ayo cepat lepaskan aku.”
“Mmm baiklah baik… Asal kau janji besok kita akan bertemu lagi.” Yong Dae mengatakannya tepat di bahu Yana sembari memegang kedua bahunya.
“Kalau aku tidak sibuk… Baiklah”
Yong Dae mendekatkan wajahnya ke wajah Liliyana. 5 cm.. 3 cm.. 1 cm.. Cup.. Yong Dae mencium kening Liliyana, cukup lama. Ia pun melepaskannya. Lalu memeluk Yana lagi. Liliyana cukup syok atas perlakuan Yong Dae yang tiba-tiba meskipun ia adalah kekasihnya. Yong Dae pun menaiki lift kembali karena kamarnya berada di lantai 7.
“K..Kau hati-hati. Tidur yang nyenyak” Liliyana masih sedikit syok.
“Dadah Chagi~ Mmmuah..”
“Ada-ada saja” Batin Yana sembari kembali ke kamarnya sambil senyum-senyum sendiri.




“Ci Yana! Ayo bangun~”
“Emm.. masih ngantuk ah!”
“Cepetan bangun Ci~” Greys menggoyang-goyangkan tubuh teman sekamarnya itu
“Masih ngantuk Greys~”
“Kita-kita mau jalan-jalan nih… Mau ikut ga?”
“Hah?! Jalan-jalan? Ke mana? Ko baru ngasih tau sih? Belum mandi lagi nih” ucap Butet seraya meninggalkan kasur untuk mandi.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Mau kemana sih? Padahal gue masih ngantuk nih. Kalo bukan karena jalan-jalan mah gue mendingan tidur sampe siang”
“Yah elu Ci, pacaran mulu sih lo sama si Yong Dae” ledek Greys
“Hah?! Lu semaleman pacaran sama si bocah Korea itu?! Pantesan semalem gue cariin ga ketemu-ketemu” Timbal Meiliana.
“Apaan sih kalian. Udah ah! Namanya juga jarang ketemu. Sekalinya ketemu pasti bawaannya pengen mesra-mesraan melulu. Iya kan Ci?” Bela Firda.
“Nah tuh.. Bener kata si Firda. Kalian mah iri aja sih. Lagian kalo ga tau masalahnya jangan so’ tau” Liliyana mengerucutkan bibirnya.
“Udah-udah. Gini Ci, sekarang kita mau ke Oxford Street. Mau Shopping~” sela Greys.
“Iya hari ini waktunya kita Shopping~”,”Sekalian melepas penat tet”  Tambah Meiliana.
“Yaudah gue ikut kalian-kalian aja”

Another Side
“Jung! Jung! Ayo cepat bangun!”
“Aku masih ngantuk”
“Bangun Jung. Kami mau pergi. Apa kau tidak apa-apa ditinggal sendiri?”
“Hana-shi aku masih mengantuk, semalam aku tidak bisa tidur. Nanti aku menyusul saja.”
“Baiklah kalau begitu. Kami pergi dulu. Kau harus menyusul kami, jangan tidak yah”
“Memangnya kalian mau kemana?”
“Oxford Street”

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Jung POV
“Tuut..Tuut.. Yeoboseyo?” Ah akhirnya..
“Hana-shi! Apakah kalian masih di Oxford Street?”
Ne, kami masih di sini, Ppaliwa
Ne, aku segera menyusul”
Apa yang harus kubawa? Sepertinya dompet dan Handphone saja cukup. Hahhh… Harusnya aku bisa berangkat bersama mereka. Tapi aku baru saja bangun jam sembilan. Semalaman aku tidak bisa tidur. Dan itu semua karena aku masih memikirkannya. Yah, peristiwa kemarin. Aku belum bisa melupakannya hingga sekarang, ditambah lagi orang yang bernama Hendra itu.

Flashback
Still Jung POV
*Percakapan dalam Bahasa Inggris*
Dia mau membawaku kemana? Apa urusannya denganku? Dan siapa dia sebenarnya? Arghhh…
“Kita sudah sampai”,”Dan kau, jangan coba-coba untuk berteriak atau..”
“Atau apa?!” Aku memotong pembicaraannya. “Sebenarnya Kau ini siapa? Apa yang mau kau lakukan di tempat ini?”
“Hei tenanglah nona. Aku ini orang baik-baik. Kenalkan, aku Hendra Setiawan. Aku seorang Wartawan dari Indonesia, tapi aku bukan paparazzi seperti yang kau bicarakan. Aku sedang meliput mengenai Olimpiade London ini. Dan tadi, di atap, aku sedang beristirahat dan kebetulan saja mereka (Yana-Dae) ada di situ. Aku membawamu kemari agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang bersangkutan dengan mereka. itu bisa menjadi skandal. Dan kau tahu kan profesiku?. Nah sekarang apa kau puas dengan jawabanku?” Jelasnya Panjang lebar
Oke semuanya sudah jelas. “Tapi tetap saja! Mengapa kau membawaku dengan cara seperti ini?! Kau tidak tahu cara memperlakukan perempuan ya?!” Gengsi, aku tetap mencoba mengeles. Tapi memang benar kan? Walaupun niatnya baik tetap saja perlakuannya tidak benar adanya.
“Kalau tidak seperti itu pasti kau sudah berteriak pada Lee Yong Dae, itu benar kan?”
Gosh! Mengapa kata-katanya selalu tepat sasaran. “T..Tapi kau bisa kan mengajakku ke bawah dengan pelan, bukan membekap sambil menarikku seperti tadi.”
“Oke.. Oke baiklah aku minta maaf atas kejadian tadi. Dan aku sarankan, apa yang kau lihat tadi jangan beritahu siapa-siapa jika kau ingin karirmu selamat, mengerti?”
“Tanpa kau beritahupun aku pasti melakukannya” batinku. “A.. Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha”
“Gadis baik, kalau begitu aku pergi dulu” Hendra berlalu begitu saja sambil mengangkat sebelah tangannya.
Mwoya? Ya!! Nappeun Namja!

Flashback End
Liliyana POV
Kami menyusuri Oxford Street ini. Tak jarang kami singgah beberapa kali di toko-toko yang menurut kami – Bukan, mereka maksudku -  bagus dan yang pasti harganya murah. Kalau aku sama Ci Meli sih belinya gak jauh-jauh dari Topi, Jaket, Sepatu Kets, yah yang gitu-gitu aja. Kalau mereka? Semuanya dibeli -_-
“Guys, kesini dulu ya? Bentaran doang”
“Sip.. Hp on terus ya.. Biar gampang ngehubunginnya” Ci Meli was-was biar aku ga ilang di jalan.
“Sip..”
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Topi, jaket, sepatu kets udah dapet. Beli apaan lagi? Bagus-bagus sih.. Tapi sayang juga. Hei bukannya itu.. Ha Jung Eun? Iya iya itu dia. Wah kebetulan banget bisa ketemu dia. Sama Lee Yong Dae ga ya?
Duh jadi kangen Nae namjachingu. Dia ikut Ha Jung Eun ga ya?
“Jeprett.. Jepret”
Hah suara apaan tuh? Ah bukan apa-apa. Toko itu kayanya barang-banrangnya bagus, Let’s See…

Author POV
Liliyana mengunjungi toko yang ia liat. Tanpa disadari seseorang mengambil foto dirinya.
“Ndra.. Cepetan Kesini.. Dia ada di sini.. Ya ya buruan sebelum dia balik ke hotel”

Ternyata Ha Jung Eun memasuki toko yang sama dengan Liliyana karena teman-temannya pun sedang berada disitu.
Annyeong~” sapa Jung kepada semuanya.
Annyeong.. Akhirnya kau sampai. Kau lihat-lihat dulu saja. Kami belum selesai ko J” Jawab Hana
Mianhe :( Jeongmal? Wuaaaa Gomawo~ Jucap Jung sambil membungkuk.
Jung pun mencari-cari pakaian yang ia inginkan. Saat ia akan mencobanya…….

“Wah penuh.. Baiklah kutunggu di sini”
Satu pintu dari 4 ruangan yang tersedia terbuka. Dan ternyata…
“Ka..mu?”

(To Be Continued)


Last Night in London (Part 3)


Last Night in London (Part 3)

Cast:    - Liliyana Natsir
            - Lee Yong Dae
             - Other Cast
Genre: Romance (?)
Author: SFN

Hello (author nyapa lagi ah)~.. Di Part 3 ini lebih menonjolkan Other castnya. Jadi di sini other castnya ketauan pake banget. Ada tokoh yang perannya melenceng dari realnya. Tapi semoga kalian menikmati.. haha Dan sepertinya akan menjadi cerita yang panjang ._.v
Ok Happy Reading All~~

Author POV
LYD masih meneruskan ceritanya, sesekali ia mengusap air mata Liliyana sembari bergurau agar kekasihnya tersenyum. Mereka terlarut dalam kesedihan yang justru membuat kesan romantis di antara keduanya. Apalagi setelah sekian lama mereka tidak bercengkrama seperti itu. Semuanya malah terlihat indah. Tapi tidak dari sudut pandang dua pasang mata yang memerhatikan mereka dari kejauhan.      
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

FLASHBACK
Ha Jung Eun POV
Haaaahh…. sebentar lagi olimpiade usai. Kami sudah harus bersiap-siap. Apalagi tugas kami, para atlet bulutangkis sudah selesai dari beberapa hari yang lalu. Ya meskipun aku dan tiga rekanku didiskualifikasi saat di QF – da itu membuat kami sangat terpukul – tapi di samping itu kami jadi memiliki waktu yang lebih banyak untuk berjala-jalan berkeliling kota London disaat yang lain bertanding :p. Tapi kami tetap mendukung teman senegara kami LYD/CJS saat bertanding ko…. Walaupun mereka tidak dapat medali emas, tapi kami tetap bangga dengan kegigihan mereka hingga mendapatkan medali perunggu.
yes pi sha la la la la ye pi i so mi cho
ye pi sha la la la la ye pi i tul swo pho
“Dari pelatih.”
Ya Jung! Kemana saja kau? Cepat kemari! Kami sudah di restoran sejak tadi.  Apa kau lupa akan makan malam ini? Oh ya, sampaikan  juga pada  Lee Yong Dae dan Kim Ha na. Mereka susah sekali dihubungi.
Oh my god! Aku lupa malam ini ada makan malam bersam a untuk para kontingen Korea cabor bulutangkis. Ini seperti Farewell Party di penghujung turnamen bulutangkis di olimpiade ini. Oh tidak aku harus cepat-cepat mengganti pakaianku dan bersiap-siap.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Semua sudah siap. Oh ya! Aku harus mencari Ha Na dan Yong Dae. Kemana sih mereka? Menyusahkanku saja!
Author POV
Setelah Jung siap ia pun bergegas mencari kedua temannya itu. Ia terus mencoba menghubungi mereka, tapi hasilnya nihil. Saat ia akan menayakannya pada Resepsionis di lobi hotel, “Jung!”  “Ha na? kemana saja kau? Aku menghubungimu daritadi tapi kau tidak mengangkatnya sama sekali.” Tanya Jung yang kesal bercampur khawatir.
“Maaf, tadi aku jalan-jalan keluar sebentar. Handphoneku Low Batery jadi aku tidak bisa menerima panggilan darimu.  Dan aku baru ingat bahwa malam ini ada Farewell Party, tapi aku sudah siap sekarang.” Jelas Ha Na panjang lebar
“Baik baik. Tapi Ha Na, apakah kamu melihat Yong Dae? Ia pun belum hadir di restauran dan pelatih menyuruhku mencarinya. Dan ia pun tidak bisa dihubungi sepertimu. Bahkan aku sempat heran mengapa kalian bisa kompak seperti ini.” 
“ Yong Dae? Aku belum melihatnya hari ini. Handphonenya juga tidak bisa dihubungi? Coba kau tanya pelayan atau resepsionis di sini, mungkin mereka melihatnya.” Saran Ha Na. “Oh ya Jung, aku duluan ya? Aku tidak mau pelatih tambah marah kepadaku. Maaf aku tidak membantumu mencari Yong dae. Tapi tenang saja, aku akan memberikan alasan terbaik kepada pelatih atas keterlambatanmu nanti.”
“Yasudah , tapi awas saja kalau kau tidak melakukannya, akan kuhabisi kau nanti.” Jung memperagakan seseorang yang sedang meninju.
“Kau tenang saja. Tapi berdoalah supaya aku tidak lupa.” Goda Ha Na kepada Jung yang disambungnya dengan lari kecil.
“Ya!”
Ha Jung Eun POV
“ Maaf, apakah anda melihat Lee Yong Dae lewat sini?”
“Maaf saya tidak melihatnya.”
“Benarkah? Terima kasih”
Haduh kemana sih Yong Dae? Makan malamnya sudah dimulai. Aku tidak ingin kehabisan makanan hanya gara-gara mencari-cari bocah itu. Haishh..
“Permisi, apakah anda sedang mencari Tuan Lee Yong Dae?” sapa seorang pelayan dari arah belakang.
“Benar, apakah anda melihatnya?” aku menaruh harapan besar bahwa ia akan mengatakan ‘ya’.
“Beberapa waktu yang lalu aku menaiki lift yang sama dengannya. Kalau saya tidak salah lihat, ia pergi menuju atap hotel.”
“Benarkah?” Untuk apa ia kesana? “Baiklah kalau begitu, terima kasih.”
Aku bergegas naik lift menuju atap hotel. Tidak butuh waktu lama aku sudah sampai di sana. Aku mengedarkan pandanganku unuk menemukannya. Ah! Itu dia. Tapi tunggu, ia sedang bersama siapa? Sepertinya aku harus lebih dekat untuk mengetahuinya.
Author POV
Jung berjalan mendekat ke arah Yong Dea. Ia berhenti sekitar 10 meter dari tempat Yong Dae. “Siapa itu?” “Itu.. Bukankah itu.. Li..Liliyana Natsir?” Jung kaget dengan apa yang dilihatnya. “Tapi apa yang mereka lakukan di sini? Dan.. dan mereka saling berpelukan seperti itu. Apaakah mereka berpacaran? Apa dia sudah gila?! Apa ia mau menghancurkan karirnya sendiri?” Jung marah-marah sendiri. Ia sangat kaget, marah, sekaligus khawatir, melebihi seseorang yang mengkhawatirkan temannya. “Eottokhe?”
Ia masih tidak percaya. Ia masih gusar dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya berdiri di situ, matanya berkaca-kaca dan terus menggigit bibir bawahnya. Bahkan ia sudah lupa akan Farewell Partynya.
“Hei Kau! Apa yang kau lakukan di situ? “
Ha Jung Eun POV
“Hei kau! Apa yang kau lakukan di situ?” Suara siapa itu? Aku mencari asal suara dan saat aku menoleh ke samping kiri, “Iya kau, apa yang kau lakukan di sini? Kau sedang memerhatikan mereka juga?” orang yang ternyata lelaki itu menunjuk Dae dan liliyana dengan dagunya.
“Siapa kau? Apa urusanmu? Dan apa yang kau lakukan di sini? Kau membuntuti mereka? Kau paparazzi ya?!” Aku mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya dengan memberinya seberondong pertanyaan.
“Hei pelan-pelan nona. Aku akan menjawab semuanya tapi tidak disini.” Dia mencoba menarik tanganku.
“Apa yang lakukan?!” aku setengah berteriak. Tapi itu tidak sampai terdengar ke tempat LYD dan Liliyana karena memang jarak yang cukup jauh dan sepertinya mereka sedang mendengarkan lagu menggunakan Headset bersama. “Lee Yong D..Hmmpp..” teriakanku tertahan karena ia membekap mulutku dan mencoba menarikku pergi dari situ.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Hendra Setiawan POV
Tanpa diduga-duga aku ditugaskan ke London untuk meliput dan mencari-cari berita mengenai Olimpiade ini. Hah.. Dan enaknya aku ditempatkan di hotel yang mayoritas penghuninya adalah para atlet, ya walaupun sulit mewawancarai mereka.
Hari ini aku diberi waktu istirahat karena yang sedang bertugas adalah rekanku. Aku memilih bersantai di atap hotel ini. Suasananya membuatku rileks. Aku hanya ditemani sekaleng minuman dingin yang kubeli di minimarket tadi.
Aku sangat senang meliput turnamen-turnamen olahraga, khususnya bulutangkis. Bahkan bulutangkis merupakan cabor yang  paling kusuka untuk diliput di olimpiade ini. Aku memang menyukai bulutangkis sejak lama. Tapi disamping itu, aku jadi bisa lebih sering melihatnya…..
Ah.. ya dia wanita yang bisa dibilang kusukai. Ia seorang atlet bulutangkis di sektor Mixed Double. Sudahlah, ceritanya panjang kawan.
Hei bukankah itu? Sedang apa dia disini? Aku harus mengambil gambarnya untuk beritaku, sekaligus untuk koleksi pribadiku. Untungnya aku membawa kamera. ‘cklik..cklik’ bagus sekali. Harus kuperbanyak untuk koleksiku.
Tunggu.. siapa itu? Itu Lee Yong dae kan? Untuk apa dia ke sini? Hei Hei apa yang ia lakukan dengannya? Apa aku tidak salah lihat? Mereka ber-pe-lu-kan?

Author POV
Hendra sedang asyik memotonya ketika tiba-tiba saja Lee Yong Dae datang dan langsung memeluknya. Ya, Liliyana Natsir. Sudah pasti Hendra sangat sangat terkejut. Tapi mereka tidak bisa melihat Hendra karena posisinya yang cukup jauh dan sedikit terhalangi tembok (kebayang kan? ._.v). Ia terus memerhatikan mereka. Mereka masih berpelukan.
“Tunggu, Liliyana kenapa? Sepertinya ia tidak suka dengan omongan Yong Dae” Hendra melihat Yana yang meninggalkan Yong Dae menuju bangku dekat situ. Ia terus memerhatikan mereka.
“Aishhh.. Kalian berhutang padaku! Kalau aku bukan orang yang baik ini pasti sudah menjadi Headline News besok pagi.” Gerutunya. “Asal tau saja banyak atlet yang terlibat cinta lokasi seperti kalian, tapi mereka berterus terang. Ini? Seakan akan mereka tengah membuat skandal yang besar.”

Hendra POV
Asal tau saja banyak atlet yang terlibat cinta lokasi seperti kalian, tapi mereka berterus terang. Ini? Seakan akan mereka tengah membuat skandal yang besar. Aku sangat tidak suka dengap sikap mereka. atau mungkin aku tidak suka karena…..
Apa lagi ini?! Siapa wanita di belakang itu? Sepertinya ia satu bangsa dengan LYD. Ckck.. Mereka benar-benar dalam masalah besar. Bagaimana kalau ada Paparazzi?
Wanita di belakang itu.. terlihat sangat ..gusar.  Sepertinya akan timbul masalah jika wanita itu terus di sini.

Author POV
“Sepertinya akan timbul masalah jika wanita itu terus di sini.” Hendra memustuskan menghampiri wanita Korea yang memakai gaun ungu selutut itu.
“Hei Kau! Apa yang kau lakukan di situ? “ Tanya Hendra dengan pelan namun dapat membuat wanita itu ketakutan.
Wanita itu yang tak lain adalah Jung mencari asal suara dan saat ia menoleh ke samping kiri, “Iya kau, apa yang kau lakukan di sini? Kau sedang memerhatikan mereka juga?” Hendra menunjuk Dae dan liliyana dengan dagunya.
“Siapa kau? Apa urusanmu? Dan apa yang kau lakukan di sini? Kau membuntuti mereka? Kau paparazzi ya?!” Jung mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya dengan memberinya seberondong pertanyaan.
“Hei pelan-pelan nona. Aku akan menjawab semuanya tapi tidak disini.” Hendra mencoba menarik tangan Jung.
“Apa yang lakukan?!” Jung setengah berteriak. Tapi itu tidak sampai terdengar ke tempat LYD dan Liliyana karena memang jarak yang cukup jauh dan sepertinya mereka sedang mendengarkan lagu menggunakan Headset bersama. “Lee Yong D..Hmmpp..” teriakan Jung tertahan karena Hendra membekap mulut Jung dan mencoba menarikku pergi dari situ.

(To Be Continued)



Last Night in London (Part 2)


Last Night in London (Part 2)
Cast:    - Disini pasti ketauan
            - Others
Rating: Romance (?)
Author: SFN (Author ttp sama ko ._.v )

Hello (author nyapa dulu bentar)~ ini part 2nya. Oh ya mau ngasih tau dulu. Ini kan cerita fiksi, nah tokoh” di cerita ini tuh ada yg sesuai sama yg realnya ada juga yg ngga. Jadi ya kalo aga-aga melenceng dikit ga pp dong? ^^ Dan di part ini lebih menonjolkan tokoh utama dulu. Kalo aga monoton ya dimaklum… Ok happy reading all~

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Kk..Kau..” ,“Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu?”
“Benarkah? Mmm.. Baiklah…  Aku hanya mencari angin segar dan kebetulan saja aku melihatmu.” Jawabnya dengan enteng. “Lalu apa yang kau lakukan di sini? Kau melamun hingga kedatanganku saja tidak kau sadari.”
“Tidak.. Tidak ada.” Liliyana menjawab sekenanya.
“Aku tahu dirimu Liliyana~” ucap lelaki itu dengan nada manja. “Ayo katakan, apa yang sedang kau lakukan di sini?”
“Baiklah.. Baik. Aku sedang mencoba menenangkan pikiranku dari suatu masalah. Dan.. Aku yakin kau sudah tahu masalahnya” Liliyana berusaha menjawab pertanyaan kekasihnya itu.
“Mmmm… Benarkah? Aku tidak yakin.” Lelaki itu berpura-pura berpikir.
“Kau ini.. daritadi kau hanya mengucapkan ‘Benarkah?’ apa tidak ada kata-kata lain?”
“Memangnya kata-kata apa yang kau butuhkan? Aku merindukanmu? Aku menyayangimu? Atau aku cinta.. padamu? Hahaha” Godanya pada liliyana.
“Kau masih bisa bercanda?” Timpal Liliyana ketus. Bahkan ia mencoba melepas pelukan lelaki itu. Tapi lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukannya sembari menempatkan dagunya di bahu Yana. “Jangan cemberut terus dong… nanti jadi jelek.” Candanya lagi yang bermaksud mencairkan suasana hati Yana yang memang sedang buruk.
“Kau bercanda di saat yang tidak tepat Yong Dae-a.”  Kali ini Yana benar-benar melepas pelukan Yong Dae dan pergi menuju bangku yang tidak jauh dari situ.
Yong Dae hanya bisa menghela napas dan tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Ia menghampiri Yana. “Ayolah… Bukankah kalah menang itu merupakan hal biasa bagimu.. Bukan, bagi kita maksudku.”
“Ini berbeda.. Sangat berbeda Yong Dae-a. Ini olimpiade. Berbeda dengan turnamen lainnya. Ini Olimpiade.”
“Tapi jangan terlalu lama terlarut dalam kesedihan chagi. Aku tau kau sangat sedih dan kecewa. Tapi jangan siksa dirimu dengan perasaan itu. Masih banyak turnamen lain yang menunggumu.” Yong dae terus menyemangati Yana.
“Tapi.. Tapi ini target terbesar dalam karirku. 4 tahun lalu aku sudah gagal. Dan sekarang, aku pun tidak berhasil bahkan medali perunggu sekalipun. Dan 4 tahun mendatang.. aku tidak tahu. Mungkin aku sudah pensiun.” Mata Liliyana sudah berkaca-kaca.
Lee Yong Dae tidak tega melihat Liliyana yang mulai menangis. Ia merangkulnya dan menyenderkan kepala Yana di bahunya. “ Aku tahu perasaanmu. Menangislah… Menagislah sepuasmu, selama itu dibahuku.”  Yong Dae menepuk-nepuk bahu Liliyana.
“Aku pun merasakan apa yang kamu rasakan. Yah walaupun tak serupa.” Yong Dae bercerita untuk menghibur Yana. “Aku memang mendapat medali perunggu sebagai pengganti kegagalanku mendapat medali emas. Tapi tahukah kau? Dibalik semua itu tersimpan kesedihan yang lebih besar dibandingkan tidak mendapat medali emas.” Liliyana hanya terisak dan mencoba mendengarkan Yong Dae.
“Hyung (Chung Jae Sung), setelah olimpiade ini ia memutuskan gantung raket. Dan itu membuatku sangat… sedih.” Air muka Yong Dae berubah sedih saat mengatakannya dan itu terlihat oleh Liliyana saat ia tidak sengaja melirik wajah Yong Dae.
“Kami sudah mempersiapkan ini sejak lama demi medali emas itu. Tapi takdir berkata lain. Kami kalah di SF dan sekarang kami hanya dapat perunggu.” Liliyana menggenggam tangan Yong Dae dan mencoba menegarkan kekasihnya. “Aku sudah tau akan hal ini, jadi aku berusaha sekeras mungkin, begitu juga hyung. Agar di akhir karirnya ia memiliki kenangan yang indah. Tapi tuhan memiliki rencana lain. Jujur saat itu aku belum bisa menerimanya. Tapi hyung justru terlihat tegar dan ia terus menyemangatiku. Ia bilang ‘Kita masih memiliki kesempatan untuk mendapat medali perunggu, jadi semangatlah.’

LYD POV
Ia bilang ‘Kita masih memiliki kesempatan untuk mendapat medali perunggu, jadi semangatlah.’ Aku menceritakan semuanya pada Liliyana. Awalnya aku hanya ingin menghiburnya. Tapi malah jadi seperti ini. Kesedihan itu muncul lagi. Aku mencoba untuk tetap tersenyum di depan Liliyana. Ia menggenggam tanganku, sekarang ia yang mencoba menegarkanku.

Author POV
LYD masih meneruskan ceritanya, sesekali ia mengusap air mata Liliyana sembari bergurau agar kekasihnya tersenyum. Mereka terlarut dalam kesedihan yang justru membuat kesan romantis di antara keduanya. Apalagi setelah sekian lama mereka tidak bercengkrama seperti itu. Semuanya malah terlihat indah. Tapi tidak dari sudut pandang dua pasang mata yang memerhatikan mereka dari kejauhan.       
(To Be Continued)

Minggu, 12 Agustus 2012

Last Night in London


Last Night in London

Cast:     Liliyana Natsir
             Lee Yong Dae
Rating:  Romance

Liliyana POV

Hmmm.. angin yang sejuk ini sedikit membantu diriku…  Langit malam berhias jutaan bintang. Pemandangan kota yang luar biasa megah dan indah. Sejuknya malam yang menenangkan. Itu semua pasti akan membuat semua orang rela membuang segala yang ia pikirkan dan ia rasakan, serasa dimanjakan. Tapi tidak denganku. Belum ada yang berhasil membuatku lebih tenang. Bahkan angin malam pun berusaha keras untuk menghiburku. Syukurlah usahanya berhasil.
Aku pun tidak tahu. Aku merasa seperti dihempaskan dari gedung pencakar langit. Bukan karena ada orang yang tak kukenal yang tiba-tiba saja memakiku di depan umum, bukan karena pertengkaranku dengan ka kalista hanya karena hal sepele, apalagi patah hati karena dipusin pacar. Ini lebih parah dari semua itu. Oke oke.. aku berlebihan, tapi memang itu yang aku rasakan sekarang.
Olimpiade.. ya, siapa yang tidak tahu tentang pagelaran olahraga terbesar di dunia yang diadakan 4 tahun sekali ini selalu ditunggu-tunggu para atlet-atlet dunia dalam segala cabang olahraga, termasuk aku. Apa kalian tahu aku?
Aku Liliyana Natsir. Aku adalah atlet bulutangkis Indonesia di sektor ganda campuran bersama partnerku Tontowi Ahmad. Mereka bilang kami merupakan ganda campuran Indonesia terbaik saat ini, mungkin karena ranking BWFku yang cukup baik, ranking 4 dunia. Kami diandalkan dan diharapkan dapat membawa pulang medali emas ke Indonesia dari Olimpiade London 2012 ini. Tapi takdir berkata lain. Aku dan Towi tidak dapat mencapai partai puncak setelah kalah dari pasangan Cina, Xu/Majin. Cina. Lagi-lagi Cina. Tapi kami belum menyerah. Perjuangan kami masih berlanjut untuk memperebutkan medali perunggu. Tapi apa daya, kami  pun belum berhasil mendapatkan medali perunggu. Aku sangat sangat kecewa dengan diriku sendiri. Pelatih, teman-teman atlet yang lain, bahkan penggemarku sudah mengatakan tidak apa-apa aku tidak membawa pulang satu medali pun, mereka bilang itu bukan salahku, itu faktor Luck yang memang belum berpihak kepada kami. Tapi, tapi.. tetap saja! Aku masih kecewa dengan diriku. Mengapa aku tidak bisa bermain dengan baik? Mengapa aku tidak bisa keluar dari tekanan? Pertanyaan itu selalu berputar-putar hingga kini. Kecewa, sedih, marah. Arrghh.. aku tidak tahu, aku tidak bisa menggambarkan perasaanku sekarang.
Maka dari itu aku lebih memilih menyendiri di atap hotel ini untuk menenangkan pikiranku. Hahh.. sejuknya angin malam ini. Aku bersyukur ia mau membantu menenangkan pikiranku, ya, walaupun sekelebat tentang kekalahanku masih ada.
“hmm..” aku tersentak. Sangat sangat membuatku kaget…

Author POV

Liliyana berpegangan pada dinding atap yang tidak lebih tinggi dari 1,2 meter itu. Ia  terus menghirup udara malam yang sejuk. Semilir angin membuatnya tidak menyadari ada yang datang dari arah belakang. Ia menghampiri Liliyana dan memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. ia memeluk Liliyana dengan perlahan.
Liliyana tersentak, ia sangat terkejut.
“Apa yang kau lakukan disini?”
(To Be Continued)

LONDON OLYMPIC 2012

          Sangat sangat tidak terasa. Hari ini aka digelar Closing Ceremony London Olympic 2012. Pesta olahraga 4 tahunan itu sudah berakhir. Dimulai pada tanggal 28 Juli 2012 hingga hari ini, Minggu, 12 Agustus 2012. Sayang, kontingen Indonesia tidak mengikuti Closing Ceremony karena mereka sudah tiba di tanah air beberapa hari yang lalu. Sedikit disayangkan.
Menurutku, ini merupakan Olimpiade yang cukup buruk sepanjang sejarah Olimpiade, termasuk untuk Indonesia. Dimulai dari dipulangkannya beberapa atlet -bahkan sebelum mereka berlaga- dari berbagai cabor karena memakai Dopping. 
          Lalu adanya "Opera sabun" dalam sektor Women Double di cabor bulutangkis yang mengakibatkan didiskualifikasinya 8 pemain dari 3 negara yaitu Cina, Korea, dan termasuk Indonesia.Ya, satu-satunya pemain WD Indonesia, Greysia Polii/Meiliana Jauhari didiskualifikasi karena diduga terkait dengan "Opera Sabun" yang terjadi pada partai Quarter Final.3 pasangan lainnya yang didiskualifikasi adalah Yu yang/Wang Xiaoli (China), Ha jung eun/Ki min jung (Korea), dan Jung kyu eun/Kim ha na (Korea). Mereka didiskualifikasi karena permainan mereka yang tidak maksimal dan mencoba saling mengalah. Yu/Wang sengaja mengalah dari Jung/Ha agar tidak bertemu rekan senegaranya Tian/Zhao. Sedangkan Jung/Kim dan Greys/Meiliana mencoba saling mengalah agar tidak menjadi juara Grup yang nantinya akan bertemu Yu/Wang. Mereka bahkan sempat mendapat kartu hitam dari wasit kehormatan. Sungguh sangat disayangkan.Padahal peluang mereka cukup baik.
          Lalu yang selanjutnya. Indonesia pulang tanpa membawa medali emas. Tradisi emas olimpiade tidak dapat dilanjutkan untuk tahun ini. Indonesia hanya membawa pulang 1 medali perak dan 1 medali perunggu. Itupun hanya dari cabor Weightlifting. Awalnya medali emas sangat diharapkan dapat didapat dari cabor bulutangkis, tepatnya sektor Ganda Campuran. Tapi sayang, Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad belum berhasil melaju ke final. Mereka pun tidak berhasil merebut medali perunggu. Sebagai penggemar Olahraga, terutama bulutangkis dan saya juga penggemar Liliyana, saya merasa sedikit kecewa. Ya, tapi mau bagaimana lagi. Ini semua rencana terbaik dari Allah untuk Indonesia.
          Jika dipikir-pikir, seharusnya kita bersyukur karena atlet-atlet bulutangkis Indonesia pernah berjaya di dunia dalam waktu yang cukup lama. Dari tahun 70an, ada Christian Hadinata, Imelda Wiguna yang tahun '79 memenangkan All England. Tahun '80an-'90an, ada Alan Budikusuma, Susi Susanti (mereka disebut sebagai pengantin Olimpiade), Rexy Maenaky/Ricky Subagja (peraih emas Olimpiade tahun 1996), Mia Audina, dll. Tahun 2000an ada Taufik Hidayat (Olimpiade atlanta 2004) dan lainnya. Jika dihitung-hitung, Indonesia menguasai pebulutangkisan dunia hampir 3 dekade! Bahkan pemain-pemain Indonesia ditakuti seluruh dunia, sama seperti posisi China saat ini yang baru saja berjaya sekitar tahun 2000an. China baru berjaya sekitar 1 dekade saja. Sedangkan Indonesia pernah merasakan selama itu. Kita patut bersyukur. Meskipun akhir0akhir ini regenerasi dan prestasi Atlet2 bulutangkis Indonesia menurun, tapi menurutku, bagi para pengamat olahraga dan orang-orang yang mengerti bulutangkis, Indonesia masih menjadi negara bulutangkis di dunia. Indonesia masih diperhitungkan, dan itu semua karena sejarah Bulutangkis Indonesia yang cemerlang.
          Tapi memang roda kehidupan terus berputar. Sekarang Indonesia sedang berada di bawah dan China di atas. Tapi yakinlah, suatu saat kita akan berada kembali di atas. Asalkan tetap berusaha dan selalu berdo'a kepada Allah agar diberikan yang terbaik untuk tanah air tercinta.