Jumat, 14 Maret 2014

Keindahan

Roda berputar menyusuri jalan

Derap langkah di atas tanah dingin

Hembus angin melewati raga

Bukan maksud pada awalnya

Tapi hati tidak bisa mengelak

Bermaksud mengabaikan

Tapi apa daya

Apa ini?


Ada yang menyergap hatiku

Tidak ada hal luar biasa yang terjadi

Hanya lewat dan tak luput dari pandanganku

Kau mengenakan kemeja yang membuat dirimu terlihat mempesona

Ah.. Bahkan hal itu hadir di pikiranku


Kau..

Kau yang membuat pikiran dan hatiku tak sejalan

Kau yang membuat aku diam seribu kata justru saat kau mengajakku bicara

Kau, tingkah kecil yang kau perbuat terhadapku bahkan membuatku tidak bisa lupa terhadap sosokmu

Astaghfirullah..

Aku tidak ingin memikirkannya lebih dari aku memikirkanMu

Subhanallah..

Tapi melalui sosoknya ku lebih bersyukur  karena Engkau memberikan rasa yang indah ini kepada setiap makhlukMu

Dan aku semakin menyadari bahwa Engkau Maha Pencipta  Maha Kuasa

Yang dapat menciptakan makhluk yang indah

Seperti dirinya..


Kamis, 13 Maret 2014

If I Were You

Cast: Lee Yereum, Kris, Chanyeol, other EXO member
Genre: sad, romance

I don’t wanna let you go, I don’t wanna let you go 
Sewolee jinado byeonhaji anhneun mam
Ajikdo neon nae yeoja nae sarangiran geol beoriji mothaneun nareul
Niga bondamyeon eolmana ooseu ulkka 


I don’t wanna let you go, I don’t wanna let you go 
Ajik gipeun gose byeonhaji anhneun mam
Dareun sarami yeojaga dwibeorin naega ireon maeumeul jatgo itneun geol 
Andamyeon eolmana ooseu ulkka MY LOVE 
Rain ft Lim Jong Hee - Cassiopeia


“Mengapa kau harus mengajakku ke sini? Kau bisa mengajak yang lain kan?”
“Ayolah hyung. Lagipula kau satu-satunya yang kutemukan dalam keadaan memungkinkan untuk diajak ke tempat ini di dorm.”
“Aishh!! Mengapa aku tidak bisa terpisah darimu sehari saja.. “
“Ya Hyung! Eodiga?! Semua barang ini aku yang bawa? Jinja..”


Jam berapa ini? Mengapa mata pelajaran ini lama sekali? Aku tidak boleh telat datang ke sana. Aku tidak ingin membuat Oppa menungguku.
“Yereum-ah! Apa kau tidak mendengarkan?”
“Ah, ne.. Seonsaengnim.. Jeosonghamnida..”

Sebenarnya aku tidak merasa dirugikan karena diajak Chanyeol ke kampung halamannya di Busan. Pemandangan di sini indah sekali untuk melepas penat di kepala. Untuk saat ini, aku akan menjadi Wu Yifan.. Aku ingin terlepas dari jadwal EXO yang sangat padat..
Tapi ada satu hal yang membuatku sadar bahwa semestinya aku harus berpikir dua kali jika diajak olehnya..
“Kris Hyung! Lihatlah! Indah sekali bukan? Huwaaaaa… Yeppeuda! Bahkan setelah dua tahun pemandangannya tetap sama..”
“Hyung buka jendelamu dan rasakan udara segar Busan~ Wohoo”
“Hyung..”
“Shikkeuro..”
“A-ah.. aku kan hanya terlalu gembira karena pada akhirnya bisa kembali ke Busan”
“Tapi tidak harus seribut itu kan? Jangan seperti anak kecil.”
Berada di samping Chanyeol membuat penat di kepalaku bertambah.. bahkan dia tidak bisa membiarkan aku tidur walaupun hanya lima menit saja.
“Sampai! Kris Hyung kita sudah sampai..”
“Baiklah segera keluar dari mobil dan bawa barang-barangku. Karena perbuatanmu aku tidak bisa tidur selama diperjalanan tadi..”
“Y-ya hyung..” Brakk!
“Aku lagi yang membawa semua barang ini? Memangnya aku berbuat apa tadi? Hyung Miwoyo.. ck”


Pukul 2.30 tepat. 30 menit lagi selesai dan aku segera pergi ke taman hiburan. Semoga aku tidak telat. Aku harus berpakaian yang rapi dan cantik agar Oppa terkesima saat melihatku..
“Yereum-ah.. mengapa kau tersenyum seperti itu? Kau membuatku merinding..”
“Ya! Keure, Ye jin-ah.. hari ini kau sedang tidak sibuk kan?”
“Wae? Kau ingin aku menggantikan piketmu lagi?”
“Ah.. ne..”
“Baiklah.. memangnya kau mau ke mana?”
“Ke taman hiburan..”
“Lagi?!  Yereum-ah tidakkah kau bisa menerima kenyataan bahwa…”
“Gomawoyo Ye Jin-an… sampai ketemu besok.. Annyeong..”
“Ya Lee Yereum!”
Kringgg
“Anak itu.. aku mulai khawatir dengannya..”

Jam 3.00 tepat. Hmm.. untung aku tidak telat. Hari ini aku memakai dress berwarna peach selutut tanpa lengan dengan heels warna senada. Aku pun memakai bandana yang diberikan Oppa saat kami pertama kali datang ke taman ini. Jantungku selalu berdebar saat aku menunggu Oppa di sini, di bangku taman hiburan yang letaknya merupakan letak favorit kami. Di bawah pohon maple dan tepat di depan toko kesukaanku, toko teddy bear. Aku senang melihat teddy bear teddy bear lucu dari toko tersebut. Hampir setiap minggunya mereka memiliki koleksi terbaru. Dan aku selalu berharap bahwa salah satu dari mereka akan kumiliki melalui pemberian dari Oppa.
“Oppa.. eodiga? Kau lama sekali..tch”
Baiklah aku mulai bosan. Sebaiknya aku berkeliling sambil menunggu oppa datang. Banyak hal menarik di sini. Andai Oppa bersamaku, pasti kami akan bersenang-senang..
“Noona..”
“Y-ye? Kau memanggilku?”
“Ne! Noona cantik maukah kau menemaniku? Aku punya dua permen, apakah Noona mau?”
Neomu Kyoepta… aku tidak tega menolak permintaannya. Tapi, di mana ibunya? Mengapa ia sendirian?
“Baiklah Noona akan menemanimu.”
“Gamsahamnida Noona~ Ini kuberi permen ini sebagai hadiah karena kau mau menemaniku..”
“Gomawo.. Keundae, mengapa kau sendirian di sini?”
“Ibuku sedang ke toilet untuk mengganti popok adikku. Noona sendiri, mengapa kau berjalan sendirian di taman ini? Apa kau menunggu seseorang juga?”
“A-ah.. Ne. Aku juga sedang menunggu seseorang.. Tapi ia belum datang..”
“Jun-ah!”
“Eoh.. Eoma! Noona eommaku sudah datang. Terima kasih sudah menemaniku. Anyyeong~”
Aku melambaikan tangan saat dia pergi ke pelukan ibunya. Huuhh.. Oppa, kapan kau akan datang? Aku lelah menunggumu di sini..


“Chanyeol-ah.. cepat kemari dan bantu eomma merapihkan meja dan menyiapkan makanan..”
“Ne Eomma! Hyung ayo kita turun.. Eomma sudah menyiapkan makanan..”
“Arasseo..”
“Kris apa kau tidak berniat untuk jalan-jalan? Lingkungan di sini sangat indah dan mungkin kau akan senang jika berkeliling walaupun hanya sebentar..”
“Ne Eommoni.. aku pun berniat untuk keluar setelah makan..”
“Hyung aku..”
“No! Maksudku.. Aku sedang ingin berjalan dan mencari angina sendirian.. Aku ingin merasakan udara di Busan sendirian..”
“Ne Chanyeol-ah.. biar temanmu pergi sendirian.. sepertinya ini kali pertamanya datang ke sini..”
“Ne Eomma~”
Syukurlah.. Eommoni, aku berhutang sangat besar kepadamu. Karena kau, anak kesayanganmu yang sayangnya menyebalkan itu tidak akan menggangguku walaupun hanya sesaat saja.

Angin di sini sangat sejuk. Sepertinya hidup di sini menyenangkan. Kau tidak perlu khawatir tentang bagaimana kau harus datang tepat waktu di studio, kau harus melakukan rekaman atau syitung video klip, kau tidak perlu menghadapi fans-fans yang terkadang berlebihan. Aku harus melakukan banyak hal yang menyenangkan di sini. Apakah itu taman bermain? Untuk apa aku ke sana? Tapi, siapa yang peduli? Wu Yifan ayo kita pergi ke sana..

Mengapa tidak banyak orang? Mungkin karena ini bukan akhir pekan. Tidak buruk.
Tes..tess..
Hujan? God.. tidak ada tempat berteduh. Ah itu dia.


Mwo?! Hujan? Aishh.. mengapa harus hujan? Eottoke? Tempat berteduh. Eodi eodi eodi? Di sana! Ayo Lee Yereum cepatlah.. Sebelum dirimu basah kuyup.

No One POV
Wu yifan sedikit berlari untuk berteduh dari hujan. Tanpa disadari, dari arah lain, Yereum berlari ke arah tempat tersebut. Mereka berdua sampai di tempat tersebut dalam waktu yang bersamaan. Sayangnya tempat tersebut cukup kecil untuk dua orang.
“Ya.. Aku yang duluan ke tempat ini.”
“Jelas-jelas aku yang duluan ke sini.”
“Neo! Kau seharusnya mengalah kepada seorang wanita..”
“Busun surya? Aku bahkan tidak kenal denganmu. Untuk apa aku peduli dengan yeoja asing sepertimu. Kayo.”
“Aishh jinja.. Ppaliwa.. cepat pergi dari sini sebelum..”
Tesss.. Tess.. Ssssss…
“Aish hujannya semakin besar.. Aku tidak mau bajuku basah..”
“Yeoja ini.. Sini..”
“Wah.. mau apa kau?!”
“Shikkero..”
Wu Yifan menarik Yereum dan menghadapkan kea rah yang belawanan dengannya. Sehingga mereka saling membelakangi satu sama lain agar mereka berdua dapat berteduh di tempat itu.
“Kenapa kau tidak mengalah dan pergi saja sih? Aku tidak perlu berteduh seperti ini..”
“Kenapa kau tidak diam saja? Seharusnya kau berterima kasih karena aku, kau tidak basah kuyup..”
“Keundae… Lupakan.”
“Oppa.. Seharusnya di saat seperti ini, kau datang dan memayungiku agar tidak kehujanan. Tapi bahkan kau tidak menunjukkan wajahmu sama sekali..”
“Kau sedang menunggu pacarmu?”
“Bukan urusanmu.”
“Kenapa? Pacarmu tidak datang-datang? Jangan-jangan dia pergi dengan wanita la..”
“Ya! Sudah kubilang bukan urusanmu! Jangan berani-brani berbicara yang buruk mengenai Oppaku! Neo.. “
Yereum pergi begitu saja menerjang hujan deras yang sedang turun tanpa memedulikan ekspresi Kris yang sedikit kaget dan tidak percaya. Bahkan dengan sedikit mengejek.

“Tch.. Pantas saja pacarmu tidak datang-datang..”

To Be Continued

Minggu, 12 Januari 2014

After About 2 Years

Long time no see ma blog!!! Finally i get myself open this blog again after read my friend's message on WhatsApp. Because of her, this blog will be active again. Insyaallah. Maybe i'll post my stories that i've kept until now.. Actually those stories haven't finished yet. But i will try to make those stories continuosly while i busy with my tasks.. Ok, i think it's enough for greeting.. Bye ^^

Selasa, 09 Oktober 2012

Kisah memilukan yang pernah menimpa dirimu di masa lalu pasti akan selalu teringat hingga kapanpun. Membayangi setiap kata yang engkau tulis di atas lembar kehidupan, saat kau berucap kata-kata tentang rasa, saat bahagia melanda, bahkan saat kau merasa terluka. Memang bukan suatu hal yang perlu ditangisi sepanjang waktu. Tapi terkadang luka yang dibuatnya terbuka begitu saja meskipun kau sudah berusaha menutupnya lagi dan lagi. Saat kau mencoba bercerita pada mereka, hanya tanggapan ringan yang mereka berikan, walaupun mungkin bukan itu maksud mereka, tapi cukup membuatmu menunjukkan tawamu sebagai alibi untuk menutupi awan kelabu. Di saat kau merasa sesuatu yang tidak adil, luka itu terbuka lagi. Itu sangat membuatmu merasa lelah. Kau yakin itu salahmu sendiri! Kau hanya bisa menangis! Bagaimana itu? Seiring berjalannya waktu, matahari muncul di sela-sela awan kelabu. Memberhentikan hujan yang mengguyur semesta. Menerangi bunga yang layu. Menyinari rumput-rumput hijau meskipun mereka sudah diinjak-injak. Dikotori. Dirusak. Kau mulai mengkerahkan jiwamu untuk bangkit. Tersenyum bukan sebagai alibi. Kau mulai sadar, jangan biarkan itu semua mengotori hatimu. Percaya Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu. Anggap luka itu sebuah pelajaran berharga. Walaupun orang lain tidak merasakannya sepertimu, itulah kelebihanmu! Itu kebaikan yang Allah berikan untukmu. Seperti kutipan yang berbunyi "Tiada satupun buku yang jelek yang tidak bisa diambil pelajaran darinya". 

Selasa, 02 Oktober 2012

Last Night in London (Part 6)



Cast:    - Liliyana Natsir
            - Lee Yong Dae
             - Ha Jung Eun
             - Hendra Setiawan
             - Others
Rating: G
Genre: Romance, action (?)
Author: SFN

Maaf banget ya ngaret lanjutannya… abis jadwal author padet, jadi ke delay mulu waktu buat lanjutin
ceritanya. I hope you’ll still waiting for my stories… Happy Reading… RCL ya~

Last POV
Hendra POV
Tidak ada SMS dari Liliyana. Sepertinya ia akan datang malam ini. Really Can’t Wait For This… Akan
 menjadi malam yang saaangaatt menyenangkan… Untukku. Tenanglah, aku tidak akan sejahat itu pada
Liliyana. Aku hanya ingin memanfaatkan waktuku di London yang sebentar ini bersama orang yang
kusukai…………………


Benar. Sepertinya aku menyukainya. Walaupun aku tahu itu sama saja aku mencoba untuk menghabisi
nyawaku sendiri…..

Liliyana POV
Sepertinya tidak usah terlalu formal. Santai saja. Celana panjang, kaus, jaket, topi, Perfect! Tapi…. Aku
tetap merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.. Yong Dae… Maaf ya chagi…

@Restauran Steak
“Selamat datang~” pelayan penjaga pintu menyapaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu
akupun masuk. Ternyata di saat seperti ini pun restaurannya cukup ramai. Di mana dia? ck.. aku lupa
menanyakan kepadanya ia memakai baju apa, harusnya kulakukan itu tadi. “Liliyana! Di sini!” Ah.. yang
melambaikan tangan itu sepertinya Hendra. Ternyata ia berada di meja yang letaknya sedikit di pojok
ruangan.
“Hai sorry, ga telat kan?”
“Ngga ko’, santai aja.” Syukurlah aku tidak telat.  “Oh iya, nanti wawancaranya ga usah formal-formal ya.
Walaupun aku wartawan, tapi kalau suasananya terlalu formal nanti malah ngebosenin.”
“Oke” ga nyangka, ternyata Hendra tuh baik banget. Dia tau gimana caranya membuat narasumber yang
diwawancarainya nyaman. Termasuk aku.

Author POV
Wawancara berjalan begitu saja. Sesekali diselingi obrolan lain bahkan candaan yang membuat mereka
tertawa. Wawancara terhenti saat pesanan mereka datang.
“Ayo kita makan dulu, baru abis selesai makan kita lanjut lagi.” Ajak Hendra
“Baiklah”
Mereka pun melahap hidangan yang telah dipesan. Dan lagi-lagi, sesekali diselingi dengan gurauan dari
Hendra yang membuat Liliyana tertawa.
Setelah selesai makan, sesuai dengan rencana awal, mereka pun melanjutkan wawancara – yang lebih
tepatnya mengobrol – cukup lama.
“Hen, udah jam sepuluh malem nih. Aku balik ya? Nanti pada curiga lagi aku kemana.”
“Oke, lagian wawancaranya udah selesai.” “Oh ya, lain kali kita bisa ketemu lagi kan? Bukan wawancara
sih, ngobrol biasa aja di café sambil minum. Kalaupun gak di London, ya di Indonesia nanti. Gimana?”
“Mmm… kalau gak sibuk okelah” “Udah yah, Hen. Aku balik duluan. Bye”

……………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Masih tersisa beberapa hari lagi – tepatnya tiga hari - untuk para atlet bulutangkis Indonesia, termasuk
Liliyana, untuk tinggal di London. Karena seperti itulah jadwal yang ditentukan untuk mereka meskipun
mereka tidak mengikuti Closing Ceremony yang dilaksanakan beberapa hari setelah kepulangan mereka.
Liliyana menghabiskan waktunya di kamar. Main laptop, mendengarkan musik, menonton tv, apapun
yang bisa mengisi waktunya itu. Hpnya berbunyi.
From: Hendra
Li,lagi ngapain? Lagi sibuk ga?
To: Hendra
Lagi diem aja di kamar. Ngga ko, sibuk gimana? Malah ga ada kerjaan..
From: Hendra
Hahahaha.. Iya juga sih. Kan turnamennya udah selesai. Aku mau nyari oleh-oleh sekalian jalan-jalan. Mau nemenin? Nanti aku traktir makan deh!
To: Hendra
Boleh deh! Tapi bener ya? Traktir makan! Haha.. Oke, kapan?
From: Hendra
Iya deh… jam 8 malem? Nanti aku tunggu di lobby hotel.

Liliyana POV
Beberapa hari ini aku merasa aku tambah dekat dengan Hendra. Aku pun tak tahu kenapa. Ia orang
yang, menyenangkan, baik, orang yang sangat tepat untuk dijadikan teman. Tapi aku baru sadar, aku jadi
jarang bertemu, bahkan berkomunikasi dengan Yong Dae. Apa kabar dia? Aku harus menanyakannya.
To: My Prince
Chagi apa kabar? Maaf aku baru mengirim pesan kepadamu. Aku harap kamu tidak marah. Aku benar-benar minta maaf. L
Kenapa tidak ada balasan? Apa dia benar-benar marah denganku? Aaaaa….. bagaimana ini? Memang
salahku tidak menghubunginya beberapa waktu ini. Tapi.. Aaaaa!
To: My Prince
Chagi?
To: My Prince
Chagi? Apakah kau membaca pesanku?
To: My Prince
Kau baik-baik saja kan?
To: My Prince
Kau tidak marah padaku kan chagi?
Sekarang aku mencoba menghubunginya. Tidak diangkat. Aku mencobanya lagi. Nihil. Aishh! Kalau begini aku harus bertemu dengannya. Tapi bagaimana caranya? Oh God…

Yong Dae POV
Yana sudah lama tidak menghubungiku. Aku tak tahu kenapa. Bagaimana kabarnya? Aku sangat
merindukannya. Semenjak wawancara malam itu, ia belum menghubungiku sama sekali. Tapi memang
salahku juga tidak mencoba menghubunginya. Dan akupun tak tahu kenapa rasanya jadwalku tetap saja
padat. Entah makan malam tidak jelas, jalan-jalan dengan teman-teman, shopping,ah begitulah.
Begitupun dengan hari ini. Aku, pelatih, dan Hyung sedang makan sore –sebenarnya makan siang yang
telat-  sambil mengobrol mengenai kepensiunan hyung.
“ Ya! Kenapa kau melamun terus daritadi?”
“ A.. Aniyo Hyung.”
“Oh ya, Yong Dae. Boleh aku meminjam hpmu sebentar? Aku ingin menghubungi istriku. HPku Lowbat.”
“ Ne.. Chankaman.”
Mana Hpku? Kenapa di kantong tidak ada? Jangan-jangan………. Aaaahhhh! Aku lupa! Aku sedang
menchargenya tadi!
“Mianhe, Hyung. Hpku tertinggal di kamar?” Pantas saja tidak terdengar dering HP daritadi.
“Mwo? Yasudah tidak apa-apa.”

Liliyana POV
“Ci! Buka dong pintunya! Gue mau masuk nih! Lo kenapa sih ci? Ngurung diri di kamar gitu?”
“Duh Greys, lo berisik banget! Diem dulu gue lagi mikir!”
Ya. Daritadi aku mengunci diri di kamar. Alhasil Greys nungguin daritadi di Loby lantai tempat kami
menginap. Aku stress memikirkan Yong Dae. Kenapa SMSku tidak dibalas? Padahal folder sent message
di Hpku sudah penuh oleh ‘My Prince’ tapi tetap saja tidak ada balasan. Aku kesal. Bahkan aku sudah
melempar Hpku entah kemana.
Drrtt… Drrrtt…
Yong Dae! HP! HP! Ini dia! Ah… Hendra… Hendra?! God aku lupa kalau ada janji sama Hendra.
From: Hendra
Li,  inget kan sama janji kita? Udah mau jam 8, aku nunggu di Lobby hotel ya.
To: Hendra
Iya Iya… tunggu sebentar.
Belum siap-siap lagi…. Duh!! Gara-gara mikirin Yong Dae jadi kaya gini……..
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Greys! Lo ngapain di depan pintu?” Aku kaget ada Greys duduk selonjoran di depan pintu kamar disaat
aku membuka pintu.
“Gue cape ci bolak-balik Lobby-kamar Lobby-kamar dan Lo belum ngebuka pintu juga. Yaudah gue
nungguin di sini aja.”
“Sorry.. Sorry.. Yaudah sekarang lo bisa masu dan gue mau pergi dulu.. Bye..”
“Mau kemana Lo ci? Buru-buru amat?”
Aku menghiraukan teriakannya karena jam tanganku sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Yong Dae POV
Segarnya sudah mandi. Ah sepertinya Hpku sudah full Battery. Baik ayo kita nyalakan. Mwo?! Liliyana
mengirim SMS padaku? Banyak sekali! Tapi ini sudah sejam yang lalu. Argghh!! Pabo! Kenapa aku tidak
menyalakan HP daritadi. Pasti ia sangat marah aku tidak membalas SMSnya.
To: My Princess
Chagi Mianhe.. Jeongmal mianhe.. Hpku lowbat jadi aku menchargenya. Dan aku baru membukanya tadi. Maaf membuatmu khawatir. Bagaimana kalau malam ini kita bertemu di tempat biasa?
Semoga ia tidak marah kepadaku.

 Author POV
“Hen!” “Sorry banget. Udah nunggu lama ya?”
“Ngga ko, santai aja. Yuk!”
Mereka pergi mencari oleh-oleh seperti apa yang direncanakan Hendra sebelumnya. Setelahnya,
mereka makan di Nero Caffe. Hendra sengaja memilih tempat yang asik buat mengobrol. Karena
tujuan utamanya adalah mengobrol berdua dengan Liliyana. Sama seperti sebelumnya, mereka makan
sambil sesekali mengobrol dan bercanda. Hanya saja kali ini tanpa sesi wawancara.
“Li, aku boleh nanya sesuatu ga?
“Tanya aja lagi selagi aku bisa jawab.”
“Kamu udah punya pacar?” Liliyana tersedak mendengar pertanyaan Hendra.
“Nih nih nih minum dulu.” “Bukan maksud apa-apa, Li. Cuma sekedar nanya aja.”
Mati. Gimana jawabnya nih? Ga ada yang tau selain Greys dkk  kalau gue pacaran sama Yong Dae. Dan
kalau orang kaya Hendra tau, bahaya!’ Gurau Liliyana dalam hati. “Mmm.. be-lum kok! Iya belum.”

Hendra POV
“Li, aku boleh nanya sesuatu ga?
“Tanya aja lagi selagi aku bisa jawab.” Jawabnya.
“Kamu udah punya pacar?”  Ia langsung tersedak saat aku menanyakannya. Aku tau ia sangat kaget.
“Nih nih nih minum dulu.” “Bukan maksud apa-apa, Li. Cuma sekedar nanya aja.”
“Mmm.. be-lum kok! Iya belum.” Aku tau kau berbohong Liliyana.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………
Kami sudah selesai makan. Sekarang kami sedang menelusuri jalan untuk kembali ke hotel. Jalanan di
sini cukup indah. Dan aku sudah ditemani orang yang tepat. Hanya menurutku. Tapi cukup sepi di sini.
Tak tahu dari mana datangnya tiba-tiba seseorang berlari dan menabrak Liliyana sampai jatuh dan ia
mengambil HP Yana.
*Ceritanya dalam bahasa Inggris*
“Hei pencuri! Jangan lari kau!” Apa-apaan ini? “Li, kamu ga apa-apa.”
“Ga apa-apa ko, Hen.” Meskipun begitu ia terus memegangi tangan kirinya.
“Ayo aku bantu diri.” “Li, kamu tunggu sini ya. Aku bakalan ngejar dan ngasih pelajaran sama pencuri
itu.”
“Hen! Hen!” Aku menghiraukan teriakan Liliyana. Aku terus berlari mengejar pencuri itu. Ia berlari ke
arah gang sempit.Gelap sekali.  Buntu! Bagus! Aku bisa menghabisinya!
“Hei! kau mau cari mati? Cepat kembalikan HP itu!”
“Hah! Bukankah harusnya aku yang bilang begitu? Berani sekali kau ke sini seorang diri.”
Aku sudah tidak tahan. Akupun menyerangnya. Aku menunju kepalanya. Ia mencoba membalas, tapi
gagal. Lalu aku tinju lagi mukanya dan aku tendang perutnya. Dia tumbang. Aku mengambil HP Liliyana.
Aku membuka masker yang dipakainya. Tidak bisa dipercaya.
“Kau? Apa yang kau lakukan ?

(To Be Continued)

Jatuh, Ya Bangkit Lagi!

     30 September 2012. Such a great day and scary in the same time for me Because me, Rani, Nuha, and three  of Santri would be in competition "LCTLH (Lomba Cepat Tepat Lingkungan Hidup) in IPB. Kita udah mempersiapkan ini kurang lebih sejak satu bulan yang lalu. Ya, kami semua tuh ingin bisa masuk final di sela-sela kekurangan kami yaitu tidak adanya pelajaran PLH di sekolah kami. Yupz! Tidak ada PLH di sekolah kami. Tapi kami semua sangat ingin mengikuti lomba tersebut dan berusaha sekeras mungkin membawa nama baik SMA Insan Kamil. 
     Pas di hari H-nya, aku tuh udah, "harus bangun pagi","ga boleh telat" beuuhhh segala macem deh. Aku berangkat jam tujuh kurang - yang harusnya setengah tujuh-, untungnya ada Teh Atun jado dianterin pake motor. pas nyampe depan BNI, aku nyariin. Ini anak-anak yang lomba pada kemana? Apa aku telat? Apa langsung di Sylva Pertaminanya? Nunggu nunggu sekitar sepuluh menit, beranjaklah kita mau masuk ke IPBnya. Terus aku SMS rani. Rani nelepon dia masih di angkot katanya, tunggu aja di BNI. Ya balik lagilah kita nunggu di BNI. lima menit kemudian barulah mereka datang. Akhirnya..... yang ditunggu-tunggu dateng juga. Terus kita langsung ke TKP. Kita didampingin Ka Aulia, kakaknya Rani. Sesampainya di sana, ternyata anak santri udah pada nyampe duluan *yaiyalah, orang pake motor semua* terus kita langsung ngurusin administrasi segala macem. Kita disuruh nunggu sampe semua peserta dateng *datengnya pada ngaret* n semua baru ngumpul pas jam delapan lewat 15. Kita terus baca0baca lagi buku PLHnya sambil tegang. Kata Rani sama Nuha "Jangan lupa Tawasulan Syeikh Abdul Qodir Jaelani sama Agitsnii Agitsnii...", Karena kita memang tegang banget! Terus ga lama ada upacara pembukaan. Aku kira pesertanya banyak banget, ternyata yang hadir cuma 10 kelompok. 
     Pertama, ada babak penyisihan. Tertulis. waktunya 90 menit. Waktu ngerjain soal, kita heboh banget! Tapi tanpa suara alias sambil bisik-bisik. Selesai, kita di suruh nunggu hasil. Sambil nunggu, kita makan snack yang udah di kasih panitia.setelah sekita 15 menit nunggu. Diumuminlah yang masuk babak semifinal. Dan...... *jejeng~* SMA Insan Kaminl disebut paling pertama! Kita seneng banget dong! Tapi kita bingung, "Yang mana nih yang masuk? Soalnya yang Depok aja ada dua kelompok dua-duanya masuk dan Depoknya disebutin 2 kali." Akhirnya Rani nanya. Dan yang masuk adalah kelompok aku! Kita seneng banget! Tapi kita juga sedih, kasian anak santrinya. Ga tega.
    Yaudah langsung aja kelompok kami mengikuti babak SF. Ada 3 babak SF. Kami masuk kelompok yang mengikuti babak SF pertama. Unfortunately, kita kalah. Masih ada kesempatan sih di babak SF 3, tapi tetep aja ngerasa, yaaahhhh... sayang banget. 
     Setelah menunggu dan mengikuti setiap babak SF, tibalah babak SF ketiga. Kami ikut lagi. babak SF berjalan ketat. Skor kami kejar-kejaran dengan skor SMAN 1 Depok. Di saat-saat soal terakhir, skor kami sama, 400. Saat soal terakhir, soal belum selese bidacain, tapi udah ada yang mencel bel, SMA BM. tapi jawaban mereka salah. Kami tahu jawabannya. Kami kira ada soal lain, tapi ternyata SMAN 1 Depok mencet bel dan ngejawab pertanyaan tadi, dan bener. mereka menang n masuk final. Nyesek kan? Kita tuh lemesssssssss banget! Soalnya, kalahnya tuh nyesek banget. Kita langsung keluar ruangan buat ngambil makan siang. Kita duduk di pojok depan gedung. Istilahnya ya... meratapi kekalahan. Kita misbah banget di situ. Tapi ya... apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Kami hanya bisa merelakan. Toh kami sudah berusaha dan berdo'a, yang memustuskan semuanya hanya Allah. Ka Aul juga ngasih semangat "Udah, jadiin pelajaran aja...". Nuha juga bilang, "Semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuz". Dan semua mencoba saling menyemangati sesama dan diri sendiri.
     Setelah lama berdiam diri sambil meratapinya, ngedumel segala macem -aku sambil makan- kita pulang, begitupun santri. Nah, aku ga langsung pulang. Aku nyusul keluarga ke Botas. Dan jalanan Macet banget. Sampe ditelponin berkali-kali sama papa soalnya lama nyampenya.
      Pas nyampe, langsung ke Gramed soalnya lagi pada di sana. Pas si Nopal *adekku* mau bayar ke kasir, aku ditanyain, "Kaka mau beli buku?", aku ngangguk aja. Karena kalau udah di toko buku, walaupun ngga direncanain, pasti ada aja buku yang mau dibeli. Apalgi beberapa hari sebelumnya, Raudha cerita kalau ada novel tentang bulutangkis gitu, judulnya "Sang Penakluk Angin".Yaudah aku cari deh tuh buku. Dan nemu! Tapi belum beres. Masih nyari satu buku lagi yang judulnya "2" tapi ga nemu-nemu dan aku udah duburu0-buru sama papa. Yaudah, jadinya ku nyari buku TOEFL aja. Udah deh, kita langsung ke Supermarket. Pas mau ke Supermarketnya, aku liat ada rame-rame di lantai dasarnya, aku liat ke bawah, ada Festival "100 tahun sebelum kelahiran Doraemon". Tapi pas liat ada yg dance dan ngedengerin lagunya... Gangnam Style! Ini perasaan Festival Doraemon. Doraemon kan dari Jepang, lah ko dancenya Gangnam Style? Lanjut.... kita belanja keperluan bulanan. Terus pulang deh...
      Nah... pas udah masuk sekolah -tepatnya pas selasanya-, kita kan tahu mau ada lomba lagi. "Pesta Sains" di IPB juga, dan memang kita udah tau. Tapi kali ini, aku sama Raudha yang berencana ikut. Kita mau ikut LCT lagi, tapi Biologi untuk kalo ini.udah seminggu terakhir, kita nyari kelas 12 buat jadi satu anggota terakhir kelompok kita, tapi nihil. Awalnya Rani mau ikut KIR, tapi ternyata paling lambat dikumpulinnya tanggal satu Oktober, pas kita lagi ngomongin lomba itu, jadi ga jadi deh. Tapi dia katanya mikir lagi, dan akhirnya mutusin buat jadi anggota kelompok kita! 
     Meskipun kami (me n Rani) masih terbayang-bayang kejadian di LCTLH dua hari sebelumnya, tapi kami mencoba bangkit melalui lomba selanjutnya. Kami yakin masih ada kesempatan lain yang menunggu, Pesta Sains salah satunya. Jatuh. Ya bangkit lagi!

Last Night in London (Part 5)



Cast:    - Liliyana Natsir
            - Lee Yong Dae
             - Ha Jung Eun
             - Hendra Setiawan
             - Others
Rating: G
Genre: Romance (?)
Author: SFN

*Jejeng~~~ * (Backsound Ceritanya) Author menyapa kembali~~ Sebelumnya Author mau menegaskan.. Ini hanyalah cerita fiktif belaka, apabila ada kesalahan tempat maupun bahasa, mohon dimaklumi. Tapi untuk tempat-tempat di part 5 ini asli ada di Londonnya, tapi bukan berarti beneran dikunjungi yg realnya ya~ *ngerti kan?*. Dan untuk masalah bahasa, author mau minta maaf sebelumnya. Di part 4 kemarin mungkin terlalu banyak bahasa koreanya.. *Maklum terlalu bnyk nonton drama korea n baca ff ._.* untung ada admin yg ngasih catetan kaki. Karena kemaren banyak yang ngomen, jd di part 5 ini diminimalisir penggunaan bahasa asingnya. Ok Kepanjangan kayanya..
Happy Reading All~
RCL Please ^^


…………………………………………………………………………………………………………
“K..Kamu?”

Jung POV
“K..Kamu?” Lelaki ini? Apa yang ia lakukan di sini?

“Oh Kau nona? Hei! sedang apa di sini?”

“Kurasa itu bukan pertanyaan yang tepat, Tuan.. Siapa?”

“Hendra..”

“Ya, Tuan Hendra. Tanpa kuberitahu pasti anda sudah tau apa yang sedang kulakukan di sini.” Pertanyaan aneh!

“Hahaha kau benar Nona Jung” “Yasudah, aku mau membayar baju ini. Aku duluan.” Apa?! Begitu saja?! Buang-buang waktu saja!

“Isshh!”


Author POV
“Hahaha kau benar Nona Jung” “Yasudah, aku mau membayar baju ini. Aku duluan.” Hendra berlalu
begitu saja.

“Isshh!” Brukk..  Jung memasuki ruang ganti dengan sedikit marah.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Pintu ruang ganti disebelah ruangan yang dimasuki Jung terbuka. Liliyana keluar dengan membawa beberapa kaus yang ia coba tadi.

“Sepertinya ini lumayan. Tinggal kubayar ke kasir lalu pulang. Oh iya, aku harus pulang bersama mereka, berarti setelah bayar aku harus mencari mereka.” Liliyana pun pergi menuju kasir.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

@Kasir

“Untung antriannya tidak panjang. Aku membayar di saat yang tepat.” Liliyana mengantri di baris keempat.

“Kau.. Liliyana Natsir kan?”

Liliyana menoleh ke sumber suara yang didengarnya, dan ternyata itu….

 Hendra POV

“Ini kembaliannya.. Terima Kasih.” Ucap penjaga kasir yang usianya sekitar 20 tahun itu dengan sopan.

“Terima kasih” Aku membalasnya dengan senyuman. Aku memasukkan kembaliannya ke kantung celanaku. Aku membaca kembali Struk belanjaanku. Aku memeriksa dan menghitung-hitung lagi semuanya. Saat aku mau membuangnya, kepalaku tak sengaja memandang ke arahnya. Dia.. Ternyata Dia di sini…

“Kau.. Liliyana Natsir kan?”

Ia menoleh ke arahku. “Iya, aku Liliyana Natsir. Maaf anda siapa? Dan sepertinya anda orang Indonesia.” Jelas ia tidak mengenaliku, lebih tepatnya tidak mengingatku.
“Oh, Sorry sebelumnya, Aku Hendra Setiawan. Aku wartawan dari Indonesia. Aku lagi ngeliput Olimpiade London 2012 ini. Dan Liliyana, sebelumnya kita pernah bertemu. Apa kau ingat?”

“Benarkah?” Ia mencoba mengingatnya. God.. Semoga ia ingat. “Ah.. Hendra? Ia ia.. Kau pernah datang ke Pelatnas. Waktu itu kau mewawancaraiku dan Tontowi setelah kami menjuarai Singapure SS 2011, benar kan?” Akhirnya ia ingat.. Thanks God….

“Dan aku mewawancaraimu lagi setelah kau menjuarai All England kemarin.” Aku menambahkan. “Ya ya kau benar. Oh iya Hendra, apakah kau sedang berbelanja juga?”

“Iya, tapi aku sudah selesai” Aku menunjukkan kantung belanjaku. Ia hanya ber’oh’ ria. Sepertinya ada kesempatan bagus di sini. “Liliyana, apakah kau ada waktu malam ini?” “Aku mau kau menjadi salah satu narasumberku mengenai Turnamen Bulutangkis di Olimpiade ini.”

“Mm.. sepertinya tidak ada. Baiklah aku bersedia. Kapan? “

“Kau datang saja ke Restauran Steik di seberang hotel.. Aku akan menunggumu di sana.” Apakah ini mimpi? Tapi aku belum mempercayainya. Ia akan menjadi narasumberku lagi! Dan itu hal yang sangat besar untukku! “Oh iya, ini kartu namaku, hubungi aku kalau-kalau terjadi sesuatu. Aku pergi dulu”

“Baiklah… Sampai ketemu nanti malam.” Ia memberikan senyuman sebelum aku pergi. Senyuman yang manis sekali, menurutku.


Liliyana POV

Wawancara nanti malam? Tidak masalah. Tapi ada satu masalah yang harus ku atasi dulu. Semoga ia bisa mengerti .

“Silahkan” penjaga kasir itu menyapaku

“Oh iya, ini”
“Ini barangnya. Terima Kasih.”

“Terima kasih”

Author POV

Liliyana keluar dari toko itu dengan sekantung belanjaan yang berisi beberapa kaus yang ia beli. Ia mengirim sms kepada Greys.

‘Greys, gue udah selese nih. Lu dimana?’ Ia menekan tombol ‘Send’. Lalu tak lama, Liliyana menerima balasannya.

Kita ada di Le Bistro Savoir Faire Ci. Cepetan kesini. Kita baru mau mesen makanan. Tempatnya di  42 New Oxford Street. Ditunggu ya, Ci’

42 New Oxford Street ya.. Mmm.. Di peta sih kayanya ya.. lumayan lah dari sini.. Oke deh.. Let’s go~


Jung POV
“Terima Kasih” Wuaaaa.. selesai sudah. Sekarang aku sudah mendapatkan apa yang kumau. Tunggu, teman-temanku dimana?

“Jung! Di sini!” Ah.. ternyata mereka di sana, akupun menghampiri mereka yang berdiri di dekat pintu keluar. “Aku sudah selesai. Mianhe.. [1] membuat kalian menunggu lama. Sekarang kita ke mana?”

Gwenchana[2] Jung-ah.. Sekarang kita cari makan, sudah waktunya makan siang.” Hana benar, sekarang sudah jam 12 siang dan memang perutku sudah lapar.

“Oke… Mmm.. Sebaiknya kita makan di mana?” Aku mencari-cari Restauran yang tidak jauh dari toko di peta. “Hana-ya sepertinya tempat yang banyak restaurannya itu di sekitar New Oxford Street. Dan sepertinya tidak dekat dari The Plaza ini.”
“Baiklah.. Tidak apa-apa kan kawan-kawan?”

“Lagian Hana-ya, di The Plaza ini kan ada juga restaurannya. Kenapa kita ngga makan di situ saja?” tanyaku kepada Hana yang disertai anggukan Ji Hyun dan Yon Joo.

“Ah.. Biarlah kita makan di tempat lain. Jangan hanya di satu tempat saja. Aku juga kan ingin tahu tempat-tempat di Oxford Street ini. Otte [3]?”

Arasso [4]…” “Dan ke restauran mana kita sekarang?” tanya Ji Hyun pada Hana

“Mmm.. Sepertinya Le Bistro Savoir Faire menarik juga. Kajja! [5]”

@ Savoir Faire
 Liliyana POV
Huaaaah… Kenyang~ memang jika sedang lapar apapun pasti dimakan, tapi aku hanya makan Caesar Salad dan Chicken Leg with Mushroom and Juniper Berry Sauce saja dan itu cukup membuatku kenyang ko.. Tapi tahukah kalian? Aku tidak memesan minuman di sini, aku memutuskan akan membelinya nanti di luar. Kenapa? Karena di sini hanya menyediakan Wine dan Champagne saja. Alhasil tenggorokanku sedikit seret.

“Guys gue udah selese nih. Kalian udah belom. Cepetan pulang yu, gue mau beli minum di luar. Seret nih.”

“Udah nih, Ci. Semuanya udah ko’. Sama lah, kita-kita juga seret. Kan ga ada yang mesen minuman di sini. Greys bawa minum tapi udah abis.”

“Udah yuk ah, kita pulang. Sekalian beli minum dulu.” Ajak Ci Meli.

je vous remercie de votre visite [6]” Seorang pelayan mengucapkannya saat kami akan keluar restauran. Ya walaupun ini di London, tapi restauran ini merupakan restauran Perancis, jadi suasananya sangat kental dengan sentuhan-sentuhan khas Perancis.
Saat kami membuka pintu restauran, kami berpapasan dengan beberapa orang yang mukanya familiar menurutku. Aku memerhatikan mereka sambil menuju keluar restauran. Saat aku sudah di luar, aku berhenti sejenak lalu berpikir. Mmm.. Mereka.. Ya! Mereka itu Tim Bulutangkis wanita Korea! Apa yang sedang..

“Ci! Ayo! Bengong aja… Katanya mau nyari minum..” Kata-kata Firda memotong pikiranku.

“Iya.. Iya.. Ayo”

Jung POV
Wuaaaa.. Kami akan makan di Restauran Perancis… Senangnya~ Ah! Itu dia Restaurannya. Kami pun memasuki Restauran itu. Saat di pintu masuk, kami berpapasan dengan orang-orang yang sepertinya tidak asing di benakku. Ketika aku sudah berada di dalam restauran, aku baru menyadarinya. “Itu… Liliyana Natsir kan?” Aku menengok ke belakang untuk memastikannya, tapi mereka sudah pergi……

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Liliyana POV
 Masih Sore.. Tidur dulu ah! Nanti malem kan mau ada wawancara. So, biar ga terlalu cape mendingan tidur dulu sekarang. Nah, set alarm jam 7 malem deh. Oh iya! Belum sms Yong Dae.

To: My Prince
Chagi, sepertinya malam ini aku ga bisa ketemu dulu sama kamu. Aku ada wawancara mendadak. Mianhe ya Chagi.. Aku harap kamu ngerti..

Drrrtt.. Drrttt.. Pasti balesan dari Yong Dae.

From: My Prince
Gwenchana Yana-ya.. Masih ada besok malamJ   Wawancara mendadak? Baiklah.. Hati-hati ya Chagi. Awas ada yang menculikmu nanti… wkwk ^^v
Leganya…  Untung ia tidak marah. Tapi, apa maksudnya ini? Selalu saja becanda di saat yang tidak tepat. Lagian siapa yang mau menculik gadis tomboy sepertiku? Akan kuhajar mereka (Ceilah Cici… wkwk). Ok.. Waktunya Tidur~



Hendra POV
Tidak ada SMS dari Liliyana. Sepertinya ia akan datang malam ini. Really Can’t Wait For This… Akan menjadi malam yang saaangaatt menyenangkan… Untukku. Tenanglah, aku tidak akan sejahat itu pada Liliyana. Aku hanya ingin memanfaatkan waktuku di London yang sebentar ini bersama orang yang kusukai…………………


(To Be Continued)

Catatan”
[1] Maaf
[2]Tidak apa-apa
[3]Bagaimana?
[4] Baiklah../ Aku mengerti
[5]Ayo!
[6]Terima Kasih atas Kunjungan Anda