Cast: - Liliyana Natsir
- Lee Yong Dae
- Ha Jung Eun
- Hendra Setiawan
- Others
Rating:
G
Genre:
Romance, action (?)
Author:
SFN
Maaf banget ya
ngaret lanjutannya… abis jadwal author padet, jadi ke delay mulu waktu buat
lanjutin
ceritanya. I
hope you’ll still waiting for my stories… Happy Reading… RCL ya~
Last POV
Hendra POV
Tidak ada SMS
dari Liliyana. Sepertinya ia akan datang malam ini. Really Can’t Wait For This…
Akan
menjadi malam yang saaangaatt menyenangkan…
Untukku. Tenanglah, aku tidak akan sejahat itu pada
Liliyana. Aku
hanya ingin memanfaatkan waktuku di London yang sebentar ini bersama orang yang
kusukai…………………
Benar.
Sepertinya aku menyukainya. Walaupun aku tahu itu sama saja aku mencoba untuk
menghabisi
nyawaku
sendiri…..
Liliyana POV
Sepertinya tidak
usah terlalu formal. Santai saja. Celana panjang, kaus, jaket, topi, Perfect!
Tapi…. Aku
tetap merasa ada
sesuatu yang mengganjal di hatiku.. Yong Dae… Maaf ya chagi…
@Restauran Steak
“Selamat
datang~” pelayan penjaga pintu menyapaku. Aku hanya membalasnya dengan
senyuman. Lalu
akupun masuk.
Ternyata di saat seperti ini pun restaurannya cukup ramai. Di mana dia? ck..
aku lupa
menanyakan
kepadanya ia memakai baju apa, harusnya kulakukan itu tadi. “Liliyana! Di
sini!” Ah.. yang
melambaikan
tangan itu sepertinya Hendra. Ternyata ia berada di meja yang letaknya sedikit
di pojok
ruangan.
“Hai sorry, ga
telat kan?”
“Ngga ko’,
santai aja.” Syukurlah aku tidak telat.
“Oh iya, nanti wawancaranya ga usah formal-formal ya.
Walaupun aku
wartawan, tapi kalau suasananya terlalu formal nanti malah ngebosenin.”
“Oke” ga
nyangka, ternyata Hendra tuh baik banget. Dia tau gimana caranya membuat
narasumber yang
diwawancarainya
nyaman. Termasuk aku.
Author POV
Wawancara
berjalan begitu saja. Sesekali diselingi obrolan lain bahkan candaan yang
membuat mereka
tertawa.
Wawancara terhenti saat pesanan mereka datang.
“Ayo kita makan
dulu, baru abis selesai makan kita lanjut lagi.” Ajak Hendra
“Baiklah”
Mereka pun
melahap hidangan yang telah dipesan. Dan lagi-lagi, sesekali diselingi dengan
gurauan dari
Hendra yang
membuat Liliyana tertawa.
Setelah selesai
makan, sesuai dengan rencana awal, mereka pun melanjutkan wawancara – yang
lebih
tepatnya
mengobrol – cukup lama.
“Hen, udah jam
sepuluh malem nih. Aku balik ya? Nanti pada curiga lagi aku kemana.”
“Oke, lagian
wawancaranya udah selesai.” “Oh ya, lain kali kita bisa ketemu lagi kan? Bukan
wawancara
sih, ngobrol
biasa aja di café sambil minum. Kalaupun gak di London, ya di Indonesia nanti.
Gimana?”
“Mmm… kalau gak
sibuk okelah” “Udah yah, Hen. Aku balik duluan. Bye”
……………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Masih tersisa
beberapa hari lagi – tepatnya tiga hari - untuk para atlet bulutangkis
Indonesia, termasuk
Liliyana, untuk
tinggal di London. Karena seperti itulah jadwal yang ditentukan untuk mereka
meskipun
mereka tidak
mengikuti Closing Ceremony yang dilaksanakan beberapa hari setelah kepulangan
mereka.
Liliyana
menghabiskan waktunya di kamar. Main laptop, mendengarkan musik, menonton tv,
apapun
yang bisa
mengisi waktunya itu. Hpnya berbunyi.
From: Hendra
Li,lagi ngapain? Lagi sibuk ga?
To: Hendra
Lagi diem aja di kamar. Ngga ko, sibuk
gimana? Malah ga ada kerjaan..
From: Hendra
Hahahaha.. Iya juga sih. Kan turnamennya
udah selesai. Aku mau nyari oleh-oleh sekalian jalan-jalan. Mau nemenin? Nanti
aku traktir makan deh!
To: Hendra
Boleh deh! Tapi bener ya? Traktir makan!
Haha.. Oke, kapan?
From: Hendra
Iya deh… jam 8 malem? Nanti aku tunggu di
lobby hotel.
Liliyana POV
Beberapa hari
ini aku merasa aku tambah dekat dengan Hendra. Aku pun tak tahu kenapa. Ia
orang
yang,
menyenangkan, baik, orang yang sangat tepat untuk dijadikan teman. Tapi aku
baru sadar, aku jadi
jarang bertemu,
bahkan berkomunikasi dengan Yong Dae. Apa kabar dia? Aku harus menanyakannya.
To: My Prince
Chagi apa kabar? Maaf aku baru mengirim pesan
kepadamu. Aku harap kamu tidak marah. Aku benar-benar minta maaf. L
Kenapa tidak ada
balasan? Apa dia benar-benar marah denganku? Aaaaa….. bagaimana ini? Memang
salahku tidak
menghubunginya beberapa waktu ini. Tapi.. Aaaaa!
To: My Prince
Chagi?
To: My Prince
Chagi? Apakah kau membaca pesanku?
To: My Prince
Kau baik-baik saja kan?
To: My Prince
Kau tidak marah padaku kan chagi?
Sekarang aku
mencoba menghubunginya. Tidak diangkat. Aku mencobanya lagi. Nihil. Aishh!
Kalau begini aku harus bertemu dengannya. Tapi bagaimana caranya? Oh God…
Yong Dae POV
Yana sudah lama
tidak menghubungiku. Aku tak tahu kenapa. Bagaimana kabarnya? Aku sangat
merindukannya.
Semenjak wawancara malam itu, ia belum menghubungiku sama sekali. Tapi memang
salahku juga tidak
mencoba menghubunginya. Dan akupun tak tahu kenapa rasanya jadwalku tetap saja
padat. Entah
makan malam tidak jelas, jalan-jalan dengan teman-teman, shopping,ah begitulah.
Begitupun dengan
hari ini. Aku, pelatih, dan Hyung sedang makan sore –sebenarnya makan siang
yang
telat- sambil mengobrol mengenai kepensiunan hyung.
“ Ya! Kenapa kau
melamun terus daritadi?”
“ A.. Aniyo
Hyung.”
“Oh ya, Yong
Dae. Boleh aku meminjam hpmu sebentar? Aku ingin menghubungi istriku. HPku
Lowbat.”
“ Ne..
Chankaman.”
Mana Hpku?
Kenapa di kantong tidak ada? Jangan-jangan………. Aaaahhhh! Aku lupa! Aku sedang
menchargenya tadi!
“Mianhe, Hyung.
Hpku tertinggal di kamar?” Pantas saja tidak terdengar dering HP daritadi.
“Mwo? Yasudah
tidak apa-apa.”
Liliyana POV
“Ci! Buka dong
pintunya! Gue mau masuk nih! Lo kenapa sih ci? Ngurung diri di kamar gitu?”
“Duh Greys, lo
berisik banget! Diem dulu gue lagi mikir!”
Ya. Daritadi aku
mengunci diri di kamar. Alhasil Greys nungguin daritadi di Loby lantai tempat
kami
menginap. Aku
stress memikirkan Yong Dae. Kenapa SMSku tidak dibalas? Padahal folder sent message
di Hpku sudah
penuh oleh ‘My Prince’ tapi tetap saja tidak ada balasan. Aku kesal. Bahkan aku
sudah
melempar Hpku
entah kemana.
Drrtt… Drrrtt…
Yong Dae! HP!
HP! Ini dia! Ah… Hendra… Hendra?! God aku lupa kalau ada janji sama Hendra.
From: Hendra
Li,
inget kan sama janji kita? Udah mau jam 8, aku nunggu di Lobby hotel ya.
To: Hendra
Iya Iya… tunggu sebentar.
Belum siap-siap
lagi…. Duh!! Gara-gara mikirin Yong Dae jadi kaya gini……..
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“Greys! Lo
ngapain di depan pintu?” Aku kaget ada Greys duduk selonjoran di depan pintu
kamar disaat
aku membuka
pintu.
“Gue cape ci
bolak-balik Lobby-kamar Lobby-kamar dan Lo belum ngebuka pintu juga. Yaudah gue
nungguin di sini
aja.”
“Sorry.. Sorry..
Yaudah sekarang lo bisa masu dan gue mau pergi dulu.. Bye..”
“Mau kemana Lo
ci? Buru-buru amat?”
Aku menghiraukan
teriakannya karena jam tanganku sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Yong Dae POV
Segarnya sudah
mandi. Ah sepertinya Hpku sudah full
Battery. Baik ayo kita nyalakan. Mwo?! Liliyana
mengirim SMS
padaku? Banyak sekali! Tapi ini sudah sejam yang lalu. Argghh!! Pabo! Kenapa
aku tidak
menyalakan HP
daritadi. Pasti ia sangat marah aku tidak membalas SMSnya.
To: My Princess
Chagi Mianhe.. Jeongmal mianhe.. Hpku lowbat
jadi aku menchargenya. Dan aku baru membukanya tadi. Maaf membuatmu khawatir.
Bagaimana kalau malam ini kita bertemu di tempat biasa?
Semoga ia tidak
marah kepadaku.
Author
POV
“Hen!” “Sorry
banget. Udah nunggu lama ya?”
“Ngga ko, santai
aja. Yuk!”
Mereka pergi mencari
oleh-oleh seperti apa yang direncanakan Hendra sebelumnya. Setelahnya,
mereka makan di Nero Caffe. Hendra sengaja memilih tempat
yang asik buat mengobrol. Karena
tujuan utamanya
adalah mengobrol berdua dengan Liliyana. Sama seperti sebelumnya, mereka makan
sambil sesekali
mengobrol dan bercanda. Hanya saja kali ini tanpa sesi wawancara.
“Li, aku boleh
nanya sesuatu ga?
“Tanya aja lagi
selagi aku bisa jawab.”
“Kamu udah punya
pacar?” Liliyana tersedak mendengar pertanyaan Hendra.
“Nih nih nih
minum dulu.” “Bukan maksud apa-apa, Li. Cuma sekedar nanya aja.”
‘Mati. Gimana jawabnya nih? Ga ada yang tau
selain Greys dkk kalau gue pacaran sama
Yong Dae. Dan
kalau orang kaya Hendra tau, bahaya!’ Gurau
Liliyana dalam hati. “Mmm.. be-lum kok! Iya belum.”
Hendra POV
“Li, aku boleh
nanya sesuatu ga?
“Tanya aja lagi
selagi aku bisa jawab.” Jawabnya.
“Kamu udah punya
pacar?” Ia langsung tersedak saat aku
menanyakannya. Aku tau ia sangat kaget.
“Nih nih nih
minum dulu.” “Bukan maksud apa-apa, Li. Cuma sekedar nanya aja.”
“Mmm.. be-lum
kok! Iya belum.” Aku tau kau berbohong Liliyana.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
Kami sudah
selesai makan. Sekarang kami sedang menelusuri jalan untuk kembali ke hotel.
Jalanan di
sini cukup
indah. Dan aku sudah ditemani orang yang tepat. Hanya menurutku. Tapi cukup
sepi di sini.
Tak tahu dari
mana datangnya tiba-tiba seseorang berlari dan menabrak Liliyana sampai jatuh
dan ia
mengambil HP
Yana.
*Ceritanya dalam bahasa Inggris*
“Hei pencuri!
Jangan lari kau!” Apa-apaan ini? “Li, kamu ga apa-apa.”
“Ga apa-apa ko,
Hen.” Meskipun begitu ia terus memegangi tangan kirinya.
“Ayo aku bantu
diri.” “Li, kamu tunggu sini ya. Aku bakalan ngejar dan ngasih pelajaran sama
pencuri
itu.”
“Hen! Hen!” Aku
menghiraukan teriakan Liliyana. Aku terus berlari mengejar pencuri itu. Ia
berlari ke
arah gang
sempit.Gelap sekali. Buntu! Bagus! Aku
bisa menghabisinya!
“Hei! kau mau
cari mati? Cepat kembalikan HP itu!”
“Hah! Bukankah
harusnya aku yang bilang begitu? Berani sekali kau ke sini seorang diri.”
Aku sudah tidak
tahan. Akupun menyerangnya. Aku menunju kepalanya. Ia mencoba membalas, tapi
gagal. Lalu aku
tinju lagi mukanya dan aku tendang perutnya. Dia tumbang. Aku mengambil HP
Liliyana.
Aku membuka
masker yang dipakainya. Tidak bisa dipercaya.
“Kau? Apa yang
kau lakukan ?
(To Be Continued)