Bittersweet of Dandelion’s
It’s about your choice…. To catch your future
“Banguuuunn… Bangun! Udah pagi nih.
Banguuuuun… Ba..” Ah suara ini. Aku belum puas dengan tidurku, jadi kumatikan
saja alarmnya dengan keadaan mata masih terpejam, menggeliat di antara selimut,
bantal dan guling yang letaknya sudah tidak karuan. Aku selalu berbicara dalam
hati “nanti juga ada yang bangunin lagi, jadi meningan tidur lagi aja”. Aku
juga ga tau itu dalam keadaan sadar, setengah sadar, atau bahkan masih terbuai
di alam mimpi. “Ceklek..” Ok, aku mendengar suara gagang pintu yang dibuka, ga
lama pasti ibu akan membangunkanku. “Ayo Wia.. Bangun sudah jam lima subuh,
gimana kalo kamu jadi atlit nanti. Kamu bakalan kelabakan deh kalo bangunnya
siang terus”. Dan lagi, ibu selalu memakai kalimat itu yang membuatku merasa
tersinggung akannya.
”Emm iya bu.. ini udah bangun ko”
jawabku setengah sadar sambil mengeliat dengan suara seperti mengeluh. Kurasa
ibu sudah pergi. Akan kulanjutkan lagi tidurku yang sempat terganggu. Untungnya
tadi ibu tidak benar-benar masuk untuk membangunkanku.
Huaa! Aku disambut oleh teriakan para
supporter yang rela datang untuk mendukungku di partai final ini. Aku akan
bertanding di sektor tunggal putri ini dan coba tebak lawanku siapa? Wang
Yihan! Ya, tunggal putri nomor satu dunia ini menjadi lawanku di final
Indonesia Open Super Series ini. Aku masih tidak percaya bahwa aku akan
bertanding melawannya. Huaaaaa mimpi apa aku semalam.
Aku menaruh tas raketku, mengambil
raket – grip biru – kesukaanku, dan tidak lupa aku memasang deker di lutut
kiriku agar tidak terasa sakit saat bertanding. Karena di semi final kemarin,
lutut kiriku sempat terbentur lantai court
saat akan mengembalikan bola Bae Yon Joo, lawanku yang berasal dari Korea.
Aku berjalan ke tengah lapangan,
bersalaman dengan Umpire dan Serve Judge yang kebetulan keduanya
berasal dari Thailand, juga dengan seorang WANG YIHAN! Aku masih ketidakpercayaanku
masih membayangiku. Umpire bertanya kepadaku bagian koin yang mana yang aku
pilih, aku memilih gambar dan Wang Yihan sebaliknya. Ternyata Wang Yihan
mendapat giliran serve yang pertama.
Setelah itu, seperti biasa kami
melakukan pemanasan terlebih dahulu agar otot-otot kami tidak kaku dan terasa
lebih lentur saat bermain. “Guys, play.”Umpire telah menegur kami, sudah saatnya
game dimulai. Kami bersiap di tempat
kami.
“Ladies
and gantleman. On my right, Wang Yihan, China. And on my left, Wianata Sukma,
Indonesia. Wang Yihan to serve to Wianata. Love all, play.” (To Be continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar