Senin, 14 Mei 2012

Part 2 : GOR Veteran


 Part 2



Wianata Sukma. Ya, itu namaku. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Aku punya seorang kakak laki-laki, Rendi Saputra. Familiar?, ya benar, dia adalah pelatih di GOR Veteran tempat dimana aku dan Sekar latihan bulutangkis setiap harinya. Usiaku 13 tahun sekarang. Aku bersekolah di SMP Negeri 5 Semarang. Walaupun aku tinggal di Semarang, bukan berarti aku bisa berbahasa Jawa. Aku bukan asli keturunan Jawa. Orangtuaku memutuskan untuk merantau dari Riau semenjak 13 tahun yang lalu, tepat saat aku berusia 3 tahun dan abangku berusia 10 tahun. Sekarang abangku berusia 20 tahun, ia kuliah semester 5 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Semarang. Dia mengikuti beasiswa di kampusnya. Ia memang berprestasi di bidang olahraga terutama bulutangkis.
Karena prestasi abangku itulah ia menjadi pelatih di GOR Veteran. Ia mendirikan club kecil-kecilan bersama teman-teman kampusnya. Memang tidak seprofesional dan sehebat pelatih-pelatih di klub-klub bulutangkis yang terkenal seperti SGS Bandung, PB Djarum, Jaya Raya ataupun klub lainnya. Tapi gitu-gitu, abangku sering membawa anak-anak didiknya menjadi juara, ya walaupun hanya turnamen-turnamen setingkat Semarang yang dijuarai, tapi kami tetap bangga dapat mengharumkan nama klub kecil kami. Karena hanya di klub inilah impian anak-anak untuk dapat bermain bulutangkis. Oh iya, nama klubnya itu Veteran Club. Sesuai dengan nama GOR tempat kami latihan.
Aku akan lanjutkan yang tadi. Banyak sekali cerita yang tersimpan dibalik Veteran Club ini. Sebagian kecil sudah kuceritakan tadi. Sebelumnya aku akan bercerita tentang abangku lagi.
Sebenarnya, dulu cita-cita abangku adalah menjadi seorang atlit bulutangkis. Ia sangat mencintai bulutangkis. Ia sudah bisa bermain bulutangkis semenjak duduk di kelas 4 SD. Awalnya, ayahku yang mengajarkannya. Tapi saat ia sudah mahir, ayah memutuskan untuk memasukkannya ke dalam klub agar kemampuannya dapat ditempa lagi. Memang bukan klub besar. Namanya juga di daerah yah adanya klub kecil-kecilan. Disamping itu, keluarga kami juga bukan keluarga yang berlebih akan kekayaan, hanya keluarga kecil yang sederhana. Tapi ayah tidak peduli akan hal itu, karena ayahpun ingin abangku itu menjadi seorang atlit nasional bahkan internasional. Dan demi itu, beliau melakukan apapun untuk abangku termasuk memasukkannya ke dalam klub. Abangkupun merasa sangat senang.
Ia berlatih 3 kali dalam seminggu, itu disesuaikan dengan jadwal sekolahnya. Meskipun keinginannya sangat besar untuk menjadi seorang atlit, tapi ia tetap mementingkan pendidikan. Ia sangat rajin berlatih bulutangkis, bahkan saat tidak ada jadwal, ia tetap datang ke GOR untuk latihan. Ia termasuk anak yang berprestasi di klubnya. Oleh sebab itu, ia sering diikutkan berbagai kompetisi oleh sang pelatih. Dan tak janrang ia menjadi juara. Hingga suatu saat, saat ia duduk di kelas  ia direkomendasikan oleh pelatihnya untuk mengikuti beasiswa Djarum. Pelatihnya pun sudah membicarakan masalah ini kepada orangtuaku. Ia senang bukan kepalang, ia tidak bisa menolak tawaran yang sangat “Wow!” baginya. Ia mengikuti kompetisi untuk memperebutkan beasiswa klub Djarum tersebut.
Peserta yang mengikuti beasiswa klub Djarum tersebut berjumlah 50 orang dari seluruh Indonesia, dan salah satunya adalah abangku! Bang Rendi!. Menjadi pesertanya saja tidak mudah lho! Mereka harus melalui beberapa tahapan untuk menembus 50 besar. Dan dari 50 orang tadi, hanya akan diambil 10 orang untuk menerima beasiswa yang telah disediakan pihak klub Djarum. Dengan usahanya yang gigih, ia berhasil mendapatkan besiswa itu!
Tak lama setelah kabar menggembirakan itu, sekitar satu minggu kemudian, abangku pindah ke asrama klub Djarum dan mulai megikuti rutinitas disana. Untuk masalah sekolah, abangku diikutkan Home Schooling oleh pihak klub. (To Be Continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar