Part 2
Wianata Sukma. Ya, itu namaku. Aku
anak kedua dari dua bersaudara. Aku punya seorang kakak laki-laki, Rendi
Saputra. Familiar?, ya benar, dia adalah pelatih di GOR Veteran tempat dimana
aku dan Sekar latihan bulutangkis setiap harinya. Usiaku 13 tahun sekarang. Aku
bersekolah di SMP Negeri 5 Semarang. Walaupun aku tinggal di Semarang, bukan
berarti aku bisa berbahasa Jawa. Aku bukan asli keturunan Jawa. Orangtuaku
memutuskan untuk merantau dari Riau semenjak 13 tahun yang lalu, tepat saat aku
berusia 3 tahun dan abangku berusia 10 tahun. Sekarang abangku berusia 20
tahun, ia kuliah semester 5 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Semarang.
Dia mengikuti beasiswa di kampusnya. Ia memang berprestasi di bidang olahraga
terutama bulutangkis.
Karena prestasi abangku itulah ia
menjadi pelatih di GOR Veteran. Ia mendirikan club kecil-kecilan bersama
teman-teman kampusnya. Memang tidak seprofesional dan sehebat pelatih-pelatih
di klub-klub bulutangkis yang terkenal seperti SGS Bandung, PB Djarum, Jaya
Raya ataupun klub lainnya. Tapi gitu-gitu, abangku sering membawa anak-anak
didiknya menjadi juara, ya walaupun hanya turnamen-turnamen setingkat Semarang yang
dijuarai, tapi kami tetap bangga dapat mengharumkan nama klub kecil kami.
Karena hanya di klub inilah impian anak-anak untuk dapat bermain bulutangkis.
Oh iya, nama klubnya itu Veteran Club.
Sesuai dengan nama GOR tempat kami latihan.
Aku akan lanjutkan yang tadi. Banyak
sekali cerita yang tersimpan dibalik Veteran
Club ini. Sebagian kecil sudah kuceritakan tadi. Sebelumnya aku akan
bercerita tentang abangku lagi.
Sebenarnya, dulu cita-cita abangku
adalah menjadi seorang atlit bulutangkis. Ia sangat mencintai bulutangkis. Ia
sudah bisa bermain bulutangkis semenjak duduk di kelas 4 SD. Awalnya, ayahku
yang mengajarkannya. Tapi saat ia sudah mahir, ayah memutuskan untuk
memasukkannya ke dalam klub agar kemampuannya dapat ditempa lagi. Memang bukan
klub besar. Namanya juga di daerah yah adanya klub kecil-kecilan. Disamping
itu, keluarga kami juga bukan keluarga yang berlebih akan kekayaan, hanya keluarga
kecil yang sederhana. Tapi ayah tidak peduli akan hal itu, karena ayahpun ingin
abangku itu menjadi seorang atlit nasional bahkan internasional. Dan demi itu,
beliau melakukan apapun untuk abangku termasuk memasukkannya ke dalam klub.
Abangkupun merasa sangat senang.
Ia berlatih 3 kali dalam seminggu, itu
disesuaikan dengan jadwal sekolahnya. Meskipun keinginannya sangat besar untuk
menjadi seorang atlit, tapi ia tetap mementingkan pendidikan. Ia sangat rajin
berlatih bulutangkis, bahkan saat tidak ada jadwal, ia tetap datang ke GOR
untuk latihan. Ia termasuk anak yang berprestasi di klubnya. Oleh sebab itu, ia
sering diikutkan berbagai kompetisi oleh sang pelatih. Dan tak janrang ia
menjadi juara. Hingga suatu saat, saat ia duduk di kelas ia direkomendasikan oleh pelatihnya untuk
mengikuti beasiswa Djarum. Pelatihnya pun sudah membicarakan masalah ini kepada
orangtuaku. Ia senang bukan kepalang, ia tidak bisa menolak tawaran yang sangat
“Wow!” baginya. Ia mengikuti kompetisi untuk memperebutkan beasiswa klub Djarum
tersebut.
Peserta yang mengikuti beasiswa klub
Djarum tersebut berjumlah 50 orang dari seluruh Indonesia, dan salah satunya
adalah abangku! Bang Rendi!. Menjadi pesertanya saja tidak mudah lho! Mereka
harus melalui beberapa tahapan untuk menembus 50 besar. Dan dari 50 orang tadi,
hanya akan diambil 10 orang untuk menerima beasiswa yang telah disediakan pihak
klub Djarum. Dengan usahanya yang gigih, ia berhasil mendapatkan besiswa itu!
Tak lama setelah
kabar menggembirakan itu, sekitar satu minggu kemudian, abangku pindah ke
asrama klub Djarum dan mulai megikuti rutinitas disana. Untuk masalah sekolah,
abangku diikutkan Home Schooling oleh
pihak klub. (To Be Continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar